Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENGANTAR
Jelang sore turun hujan di lereng Pengalengan
Dedaunan berkilauan laksana berlian
Air menembus lantai hutan, lewat celah bebatuan
Turun ke perkampungan, sampai pipa-pipa ibukota Parahyangan
Dari sebuah saung di kaki gunung
Seorang pemuda termenung dalam merenung
Dawai gitarnya berdengung, dilantunkan satu kidung
Puji syukur Rahmat Yang Maha Agung
Di sana hamparan subur menghijau
Oleh sisa letusan di masa lampau
Tiada badai, angin mudah terurai
Dasar gunung kokoh menyangga dari guncangan gempa
Bentangannya memaksa awan jadi butir rintik-rintik
Itulah hujan orografik
Lalu ia bacakan isi dalam Al-Qur’an
Ayat sepuluh Surat Ar-Rahman
Jika masih ingin jelas, An-Nahl ayat lima belas
Apa masih ragu-ragu, Al-Anbiya ayat tiga puluh satu
Sebuah syair penggugah untuk memahami lebih dalam tentang peran gunung sebagai pasak bumi yang menjaga keseimbangan peradaban.
AYAT AL-QUR’AN TENTANG GUNUNG SEBAGAI PASAK BUMI
Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan mekanisme mendasar penciptaan gunung melalui terminologi Rawaasiya (pasak/jangkar yang menancap dan menyeimbangkan) serta Autaad (pasak pengokoh):
Surat Ar-Rahman
“Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya.”
(Landasan ruang hidup yang dipersiapkan dengan segala daya dukung ekologisnya).
Surat An-Nahl
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”
Surat Al-Anbiya
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…”
Surat An-Naba’ [78:6–7]
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”
MEMAHAMI “AGAR KALIAN TIDAK GONCANG BERSAMANYA”
Kalimat “An Tamiida Bikum” (agar bumi tidak goncang bersama kamu) dalam tinjauan sains modern mencakup multi-disiplin keilmuan yang saling mengunci:
Konsep Isostasi & Geodesi (Mekanika Pasak):
Gunung tidak sekadar menumpuk di atas permukaan, melainkan memiliki akar kerak (crustal root) yang menancap jauh ke dalam lapisan astenosfer. Seperti jangkar kapal, mekanisme isostasi ini menjaga keseimbangan gravitasi dan rotasi litosfer bumi agar tidak terjadi dislokasi kerak secara masif.
Vulkanologi (Stabilisator & Penyedia Logistik Baturana):
Gunung berapi berfungsi sebagai pressure release valve (katup pelepas tekanan) magma perut bumi agar dinamika mantel terarah. Material vulkanik purba menguraikan unsur hara pembentuk kesuburan tanah (kokoh pangan) dan menyediakan mineral batuan struktural (kokoh bahan bangunan).
Tektonik (Peredam Tegangan Plate):
Morfologi pegunungan menyerap dan membagikan redistribusi gaya gesek antar-lempeng tektonik, meminimalisasi potensi gempa dangkal yang merusak (catastrophic displacement).
Hidrologi (Menara Air Alami):
Gunung berstruktur poros menjadi spons raksasa yang menangkap air hujan, menyaringnya melalui akuifer bebatuan, dan melahirkan aliran sungai-sungai abadi penyokong kehidupan wilayah hilir.
Klimatologi (Sistem Hujan Orografik):
Bentang tinggi pegunungan mencegat pergerakan massa udara lembap, memaksanya naik, mengalami kondensasi, dan menurunkan hujan orografik yang menjamin keberlanjutan siklus presipitasi regional.
Agro-Mikro & Geomineral:
Perbedaan elevasi menciptakan variasi mikroklimat yang mendukung komoditas pertanian spesifik dataran tinggi, sekaligus menyimpan cadangan geomineral penting bagi industri peradaban.
Suaka Fauna & Benteng Ekosistem:
Pegunungan bertindak sebagai biodiversity hotspot—benteng pertahanan terakhir bagi plasma nutfah, fauna endemik, dan keseimbangan jaring-jaring makanan.
MENGUNCI FUNGSI GUNUNG LEWAT IPAMA
Untuk mentransformasikan ayat-ayat kauniyah ini ke dalam kerja nyata ekonomi berkeadilan dan konservasi alam, IPAMA mengusung konsep:
“Carbon Trading Holding for Upland Optimization”
(Holding Perdagangan Karbon untuk Optimalisasi Wilayah Pegunungan)
Konservasi Terintegrasi:
Menjaga pasak bumi, fungsi tutupan hutan, dan serapan air dari degradasi lahan.
Derivasi Ekonomi Berkelanjutan:
Menggerakkan sektor pertanian mikro-organik, peternakan terpadu, budidaya perlebahan (apiari), eko-eduwisata, serta jasa lingkungan air bersih.
Ekologi dan ekonomi tidak lagi bertabrakan, melainkan saling mengokohkan dalam satu ekosistem barokah.
PENUTUP
Gunung adalah pasak fisik sekaligus penanda keagungan Pencipta. Menjaga pegunungan bukan hanya tugas ekologis, melainkan bentuk penjabaran amanah khalifah di muka bumi agar peradaban manusia tidak ikut goncang bersamanya.
