Penulis: Muhammad Sholikhul Aziz
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Paradoks Kebijakan dan Ironi Peradaban Dunia hari ini dipenuhi dengan paradoks yang menggelikan sekaligus memprihatinkan: Label sertifikasi hadir secara prosedural, namun ruang untuk prinsip thoyyib (kebaikan, kelaikan, dan dampak ekologis berkelanjutan) sering kali luput dari kalkulasi utama. Peringatan bahaya kesehatan dipajang secara eksplisit pada bungkus rokok, namun pendapatan pajaknya tetap menjadi instrumen fiskal yang ditimang-timang. Keluhan akan kenaikan harga BBM dan jeritan kemacetan lalu lintas disikapi dengan retorika “jaga jarak”, sementara pada saat yang sama, kran produksi dan distribusi kendaraan pribadi baru terus digelontorkan tanpa…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Dalam diskursus ekonomi makro maupun praktis, kapital (modal) merupakan elemen mendasar yang menggerakkan roda peradaban. Dalam analisis kelayakan finansial klasik—seperti kerangka 5 C’s of Credit (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition)—modal menduduki posisi penentu daya tahan sebuah entitas bisnis. Lebih luas lagi, standar penilaian global yang membedakan keberadaan negara maju (developed nation) dan negara berkembang (developing nation) sejatinya bertumpu pada kapasitas kapital, efisiensi tata kelola modal, serta tingkat produktivitas nasionalnya. Namun, perburuan atas akumulasi kapital ini sering kali melahirkan anomali ketika nilai etika terlepas dari instrumen ekonomi. BAPAK KAPITALIS: GAGASAN…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Dialektika Guru Ngaji dan Guru IPA Ingin tertawa, namun takut berdosa ketika teringat kembali perdebatan klasik antara seorang guru ngaji dan guru IPA di sekolah dasar. Sang Guru Ngaji dengan teguh mengutip ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjelaskan pergerakan benda langit, sementara Sang Guru IPA dengan yakin memaparkan teori heliosentris dari buku teks sains. Keduanya memegang referensi yang sama-sama absah pada domainnya masing-masing. Lantas, mengapa kerap terjadi benturan narasi? Masalahnya bukan terletak pada pertentangan antara wahyu dan realitas, melainkan pada keterbatasan kerangka pemahaman manusia dalam menafsirkan keduanya. PEMAHAMAN PRESISI Integrasi Makrokosmos…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Jelang sore turun hujan di lereng Pengalengan Dedaunan berkilauan laksana berlian Air menembus lantai hutan, lewat celah bebatuan Turun ke perkampungan, sampai pipa-pipa ibukota Parahyangan Dari sebuah saung di kaki gunung Seorang pemuda termenung dalam merenung Dawai gitarnya berdengung, dilantunkan satu kidung Puji syukur Rahmat Yang Maha Agung Di sana hamparan subur menghijau Oleh sisa letusan di masa lampau Tiada badai, angin mudah terurai Dasar gunung kokoh menyangga dari guncangan gempa Bentangannya memaksa awan jadi butir rintik-rintik Itulah hujan orografik Lalu ia bacakan isi dalam Al-Qur’an Ayat sepuluh Surat…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Dalam diskursus sains Islam modern, fenomena hujan bukan sekadar peristiwa presipitasi fisika murni, melainkan sebuah bentuk perancangan sistemik (systemic design) yang berada dalam presisi keterukuran mutlak. Ahli kajian sains Islam mendefinisikan “hujan menurut ukuran” (biqadarin) mencakup proporsi massa butiran, viskositas, hingga kalkulasi efek gesekan atmosfer yang memicu gaya hambat air (drag force / terminal velocity). Prinsip fisika ini membedakan butir air hujan dengan benda padat lain yang memiliki massa sama: jika sebuah benda padat dijatuhkan dari ketinggian awan (beberapa ribu meter), gaya kinetiknya akan menciptakan efek destruktif masif ketika…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Surat Yusuf bukan sekadar narasi sejarah (ahsan al-qashash), melainkan sebuah Cetak Biru (Blueprint) Perkaderan Komprehensif untuk menghadapi dinamika zaman modern. Setiap fase kehidupan Nabi Yusuf AS—mulai dari resolusi konflik keluarga, ujian integritas, manajemen krisis negara, hingga konsolidasi kekuasaan—mencerminkan tahapan pembentukan kepemimpinan transformatif. I. MANAJEMEN ORGANISASI Proses tata kelola organisasi diawali dengan pemetaan masalah, perencanaan yang matang, konsolidasi, hingga sistem laporan berbasis bukti empiris. 1. Planning (Perencanaan) Objek Masalah (Ayat 8): Pemetaan kecemburuan sosial dan kesenjangan internal. إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ… “(Ingatlah) ketika mereka…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Musim kemarau memasuki puncaknya. Beberapa wilayah mulai dilanda kekeringan, krisis air bersih, bahkan memicu kerentanan kebakaran hutan dan lahan. Di tengah situasi ini, masyarakat luas memanjatkan doa agar air hujan segera menyiram bumi dan mengembalikan kehidupan. Barangkali yang memiliki sudut pandang berbeda hanyalah para petambak garam, yang merindukan terik matahari penuh demi kelangsungan kristalisasi produksi mereka. Fenomena ini mengingatkan kita betapa presisinya tata edar iklim dan distribusi air di bumi. Untuk memahami dinamika tersebut secara jernih, kita perlu meninjau mekanisme hujan dari sudut pandang sains klimatologi serta petunjuk Al-Qur’an…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Kenangan masa kecil sepulang menghadiri pengajian umum bersama rombongan naik mobil bak terbuka—satu-satunya di kampung—selalu membekas. Malam itu, di tengah hembusan angin malam, muncul sebuah “pembuktian” polos anak-anak: apa yang disampaikan penceramah ternyata benar adanya! Gunung-gunung itu berjalan. Bahkan pohon-pohon dan tiang listrik di tepi jalan pun ikut berlari ke belakang. Namun, apakah penglihatan masa kecil itu sebuah kebenaran, atau sekadar ilusi optik dari kendaraan yang sedang melaju? Apakah pemahaman masyarakat selama ini mengenai konsep “gunung berjalan” sudah berada pada pemaknaan yang tepat, atau justru terjebak dalam salah kaprah?…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Surat Yusuf bukan sekadar narasi sejarah (ahsan al-qashash), melainkan sebuah Cetak Biru (Blueprint) Perkaderan Komprehensif untuk menghadapi dinamika zaman modern. Setiap fase kehidupan Nabi Yusuf AS—mulai dari resolusi konflik keluarga, ujian integritas, manajemen krisis negara, hingga konsolidasi kekuasaan—mencerminkan tahapan pembentukan kepemimpinan transformatif. I. KEPEMIMPINAN MANAJEMEN ORGANISASI (KMO) Proses tata kelola organisasi diawali dengan pemetaan masalah, perencanaan yang matang, konsolidasi, hingga sistem laporan berbasis bukti empiris. 1. Planning (Perencanaan) Objek Masalah (Ayat 8): Pemetaan kecemburuan sosial dan kesenjangan internal. إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ… “(Ingatlah)…
Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Dunia pengabdian dan pengembangan masyarakat hari ini dihadapkan pada dua mainstream besar gerakan: Organisasi Perkaderan (Internal Competency & Capacity Building) dan Organisasi Pergerakan (Field Action & Direct Advocacy). Ciri menonjol dari keduanya terletak pada fokus keberhasilannya: Sukses Transformasi SDM/Subjek (Kualitas Kader & Keilmuan) versus Sukses Akses/Aksi Taktis (Ketepatan Respon Lapangan). Bagi Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA), dikotomi ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan disintesiskan—terutamanya saat IPAMA hari ini melangkah nyata menyusun kegiatan berkelanjutan Trading Karbon yang menggerakkan basis Sosial-Ekonomi Pertanian Rakyat. PROFETIK DALAM SIMBOL: YUSUF AS VS MUSA AS Al-Qur’an mengajarkan…
IPAMA
- Home
- News
- Organisasi
- Program
- Opini
- Kolom
- Portofolio
- Galeri