Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENGANTAR
Perilaku kapitalisme modern hampir selalu dibayangi oleh hedonisme dan egoisme—sebuah orientasi hidup yang menjauh dari nilai qana’ah, bersifat ekstraktif, bahkan kerap menjadi predator bagi keseimbangan sosial dan alam.
Persaingan ego antar-individu ditampilkan lewat eksistensi gaya hidup glamor dan kepemilikan barang-barang mewah, tak terkecuali supercar.
Konfigurasi mesin bertipe V hingga W menjadi standar gengsi; mesin tipe in-line dianggap biasa saja.
Dapur pacu V atau W ini menyimpan kapasitas tenaga kuda (horsepower) yang melimpah dan gahar, yang kemudian diwadahi dalam komunitas-komunitas eksklusif demi memuaskan dahaga eksistensi duniawi.
Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan bahaya penumpukan harta dan kebanggaan semu ini:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Hadid: 20)
SURAT AL-‘ADIYAT SEBAGAI TEGURAN PRESISI
Jauh sebelum peradaban modern mengagungkan simbol kuda yang menjulang dan meringkik gagah (kuda jingkrak) sebagai lambang kemewahan, kecepatan, dan prestise mesin kelas atas, Al-Qur’an telah mengabadikan siluet ketangguhan itu dalam Surat Al-‘Adiyat.
Sifat alami mahkluk yang meringkik, menghentakkan kaki, dan melesat dengan tenaga penuh ini digunakan oleh Al-Qur’an sebagai sebuah kiasan (tamtsil) yang sangat presisi untuk menyingkap tabiat dasar manusia yang kerap lalai ketika menggenggam kekuatan dan kemewahan dunia.
وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا ﴿١﴾ فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا ﴿٢﴾ فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا ﴿٣﴾ فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا ﴿٤﴾ فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا ﴿٥﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ﴿٦﴾ وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ ﴿٧﴾ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ ﴿٨﴾
وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (Wal’aadiyaati dhabhaa)
Etimologi & Metafora:
Dhabha adalah suara deru nafas kuda yang terengah-engah dan menggelegar saat melesat kencang.
Pemahaman Kontekstual:
Ini melukiskan deru gahar dari dapur mesin berkonfigurasi V8, V12, hingga W16 saat pedal gas diinjak secara mendalam.
Raungan torsi tinggi dan puluhan pasang horsepower yang terlepas menjadi simbol dominasi di jalanan.
فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (Falmuuriyaati qadhaa)
Etimologi & Metafora:
Muuriyaat adalah pemicu percikan api (qadh) akibat gesekan keras tapak besi kuda dengan batu jalanan.
Pemahaman Kontekstual:
Karakteristik super engine yang memercikkan api dari sistem pembuangan (exhaust backfire) atau gesekan komponen mekanis berkecepatan tinggi saat digeber pada batas titik didih mesin.
فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (Falmughiiraati subhaa)
Etimologi & Metafora:
Kuda-kuda yang menerbu dan melakukan penetrasi mendadak di waktu subuh/pagi hari.
Pemahaman Kontekstual:
Mengingatkan pada budaya sunmori (Sunday Morning Ride) atau sesi memanaskan mesin di heningnya pagi hari, saat deretan mobil eksotis meluncur membelah jalanan kota yang baru terbangun.
فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (Fa-atsarna bihii naq’aa)
Etimologi & Metafora:
Menerbangkan debu-debu dan mengepulkan pusaran udara karena akselerasi yang teramat cepat.
Pemahaman Kontekstual:
Gesekan traksi ban berprofil lebar dengan aspal saat peluncuran instan (0–100 km/jam dalam selisih detik), meninggalkan jejak, kepulan asap ban, dan deru yang membahana.
فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (Fawasatna bihii jam’aa)
Etimologi & Metafora:
Menembus dan berada di tengah-tengah kerumunan.
Pemahaman Kontekstual:
Konvoi perkumpulan komunitas pemilik mesin gahar yang membelah ruang publik, secara implisit mengukuhkan posisi dan hierarki sosial di hadapan khalayak umum.
Lalu, Al-Qur’an menutup kiasan “kuda jingkrak” ini dengan menohok langsung pada pusat kesadaran manusia pada ayat 6–8:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ﴿٦﴾ وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ ﴿٧﴾ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ ﴿٨﴾
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya (6); dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya (7); dan sesungguhnya dia sangat beringas/berlebihan karena cintanya kepada harta (8).”
IPAMA:
CAMBUK KECIL KENDALI PERAN KHOLIFAH
Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) hadir membawa kompas peradaban untuk meluruskan tatanan nilai ini.
IPAMA bertindak bagai “cambuk kecil” (swat) yang menuntun dan mengendalikan keliaran “kuda jingkrak” ego manusia agar tidak tersesat dalam jurang hubbundunya (cinta dunia berlebihan), sekaligus mengembalikan tugas utama manusia sebagai pimpin pengelola bumi (khalifah).
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'” (QS. Al-Baqarah: 30)
Energi melimpah, keberanian, dan kecerdasan teknologi yang terwujud dalam mahakarya super engine tidak seharusnya dibuang atau dimusnahkan.
Tugas IPAMA adalah membelokkan (redirect) energi raksasa tersebut dari sekadar perayaan hedonisme pribadi menuju energi pembangunan, kedaulatan, dan pelayanan bagi kemaslahatan masyarakat luas.
PENUTUP
Pencapaian duniawi—baik berupa teknologi, kendaraan super, maupun kelimpahan materi—memiliki dua wajah. Adakalanya ia menjadi bentuk istidraj (perangkap kenikmatan yang menabok pelan), namun dapat pula menjadi wujud Rahmat yang membagikan manfaat.
Titik pembedanya terletak pada niat dan arah kemudi hati.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Pada akhirnya, derajat kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari berapa banyak “tenaga kuda” yang menempel pada logonya, atau seberapa mahal konfigurasi mesin yang dikendarainya. Kemuliaan hakiki hanya diraih melalui ketundukan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)