Oleh : Ganjar Kurnia

Ada dua kata yang jika diucapkan sambil ngantuk, perbedaannya sangat tipis: martabak dan martabat. Satunya dijual, satunya harus dijaga. Martabak dibungkus kardus, martabat semestinya dibungkus rasa malu. Namun, dalam politik, keduanya kadang tertukar. Martabak dijaga resepnya, tapi martabat justru bisa tercecer dalam kekuasaan.
Syahdan, ada seorang anak muda yang memulai perjalanan hidup dari berjualan martabak. Tentu saja tidak ada yang salah. Banyak orang besar lahir dari warung kecil. Persoalannya bukan dari mana seseorang berangkat, melainkan jalan mana yang dipakai untuk sampai.
Ketika dari gerobak menuju balai kota, orang masih bisa menyebutnya kerja keras. Ketika, dari balai kota menuju kursi nomor dua sebuah negara besar, dengan melewati pintu hukum yang ukurannya mendadak diubah, orang mulai bertanya:
“Ini perjalanan karier atau pesanan keluarga?”
Martabak memang dibuat berdasarkan pesanan. Ada martabak biasa, spesial, istimewa, dan super. Jabatan juga rupanya begitu. Ada jabatan yang diperoleh melalui perjuangan, ada yang diperoleh melalui pemilihan, dan ada jabatan super istimewa—aturannya disesuaikan dengan umur pemesannya.
Kalau umur belum cukup, jangan khawatir. Dalam politik, yang dipotong bukan martabaknya, melainkan peraturannya.
Di warung martabak, pembeli boleh meminta tambahan telur. Di warung kekuasaan, orang tertentu boleh meminta tambahan tafsir. Telur ditambahkan oleh penjual, sedangkan tafsir ditambahkan oleh kerabat.
Kalau untuk jualan martabak, orang tidak memerlukan ijazah, tapi untuk mengisi jabatan kenegaraan, wajar-wajar saja kalau ijazah menjadi salah satu syarat. Sebenarnya ijazah hanyalah selembar kertas. Ia tidak otomatis menggambarkan pemiliknya pintar, apalagi bermartabat. Namun, kalau seseorang mengaku memiliki ijazah, masyarakat wajar bertanya: ijazah apa, dari mana, dan bagaimana prosesnya?
Di gerobak saja, pembeli boleh bertanya:
“Mas, ini martabaknya benar memakai telur bebek?”

GANJAR KURNIA
Lahir : Bandung, 3 Januari 1956 Dewan Pakar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jawa Barat Akademisi dan Budayawan asal Bandung, Jawa Barat. Rektor Universitas Padjadjaran periode 2007 – 2015. Guru Besar sosiologi pertanian di Unpad
Penjual yang baik tidak akan marah. Ia tinggal memperlihatkan telurnya. Martabak tidak memerlukan putusan apa pun untuk membuktikan bahwa dirinya martabak. Semua bahannya dapat dilihat. Proses memasaknya dilakukan di depan pembeli. Aromanya sudah menjadi bukti. Tidak ada rapat keluarga untuk menentukan apakah adonan yang belum cukup umur boleh masuk ke dalam wajan.
Aneh juga, ketika mencari pekerjaan biasa, rakyat diminta menyerahkan fotokopi ijazah yang sudah dilegalisasi, bahkan kadang harus membawa dokumen asli. Tetapi ketika hendak menempati jabatan luar biasa, pertanyaan tentang ijazah dianggap mengganggu stabilitas nasional. Mungkin karena semakin tinggi kursi, semakin rendah kewajiban untuk menjelaskannya.
Ada pula yang berkata, “Yang penting sekarang sedang mengabdi.”
Kalimat itu terdengar sangat mulia, terutama jika diucapkan setelah semua jalan pintas telah berhasil dilalui. Pengabdian memang indah. Namun, pengabdian yang tumbuh dari keistimewaan keluarga sering terasa seperti martabak manis yang ditaburi garam: bisa dimakan, tetapi ada sesuatu yang mengganggu lidah.
Karena itu, kalau malam ini membeli martabak, jangan hanya bertanya:
“Martabaknya isi apa?”
Sesekali bertanyalah: apakah yang membuatnya mempunyai martabat di dalam membuat martabak? Kalau rasanya terasa pahit, tentu jangan disalahkan martabaknya.
Kalau kita meragukan isinya, kardusnya tinggal dibuka. Tidak perlu sidang MK, menghadirkan juru bicara, pengacara, buzzer, ahli telematika, profesor, pakar hukum tata negara dan menyebutkan pembeli tidak mempunyai legal standing untuk melihat telurnya.
Karena itu, kalau malam ini membeli martabak, jangan hanya bertanya:
“Martabaknya isi apa?”
Tanyakan juga:
“Apakah orang yang membuatnya masih mempunyai martabat?”
Kalau martabaknya terasa pahit, jangan menyalahkan adonannya. Mungkin ada yang tidak dimasukkan ke dalamnya, yaitu rasa malu.
Martabat, bukan hanya urusan tukang martabak asli, tapi urusan semua manusia yang setiap hari membuat adonan dan membakar kehidupan.
Bila martabak gosong, penjual biasanya meminta maaf dan membuat martabak baru, tetapi kalau politik gosong, rakyatlah yang diminta belajar menikmati arang. HIDUP MARTABAK!
081026
Dipublikasi Oleh IPAMA PUSAT
