Author: Ipama Pusat
Oleh : Ganjar Kurnia Di Kampung SUKA ANÉH, seorang pemuda menikah dengan gadis pilihannya. Pada undangan, namanya tertulis dengan gagah: Drs. APAPUN. Huruf “Drs.” dicetak lebih besar daripada nama pengantinnya. Bahkan huruf itu diberi tinta emas, agar lebih berwibawa. Pernikahan berlangsung meriah. Penghulu datang, akad terucap, doa dipanjatkan, prasmanan ludes. Selama bertahun-tahun, rumah tangganya baik-baik saja. Tidak ada yang mempermasalahkan gelarnya. Sampai suatu hari, tetangga dari RT paling ujung bertanya: “Doktorandes lulusan mana?” Pertanyaan itu seperti tabung gas tiga kilogram yang jatuh dari langit di tengah kampung. Pak APAPUN tersenyum. “Dari pengalaman.” “Mana ijazahnya?” “Sedang disimpan.” “Disimpan di mana?” “Di…
Oleh : IPAMA PUSAT Pendahuluan Dalam ekosistem demokrasi modern, Non-Governmental Organization (NGO) atau Organisasi Non-Pemerintah sering kali dipandang sebagai pilar ketiga (the third sector) yang krusial. Peran utamanya adalah menjembatani suara masyarakat akar rumput dengan pembuat kebijakan, sekaligus menjadi kekuatan penyeimbang terhadap dominasi negara dan penetrasi pasar. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, ruang gerak sipil (civil society space) dihadapkan pada ancaman global yang akut: polarisasi afektif akibat benturan politik praktis. Ketika kontestasi elektoral berlangsung, polarisasi sering kali membelah masyarakat menjadi dua kutub yang ekstrem dan saling bermusuhan. Dalam situasi penuh tekanan ini, NGO kerap ditarik masuk ke dalam pusaran keberpihakan…
Oleh : IPAMA PUSAT Pendahuluan Dinamika tantangan global di abad ke-21—mulai dari krisis iklim, ketimpangan ekonomi struktural, hingga pemenuhan hak-hak dasar manusia—menuntut pendekatan penyelesaian yang tidak lagi bersifat linier. Historisnya, Non-Governmental Organization (NGO) atau Organisasi Non-Pemerintah bergerak secara mandiri berdasarkan mandat spesifik, wilayah geografis, dan donor masing-masing. Namun, pola pergerakan yang terisolasi (siloed approach) ini kerap memicu fragmentasi gerakan sosial, duplikasi program, serta pemborosan sumber daya yang tidak efisien. Bahwa kemitraan antar-lembaga NGO bukan lagi sekadar pilihan taktis atau pelengkap aktivitas operasional, melainkan sebuah keharusan strategis (strategic imperative). Tanpa adanya kemitraan yang terstruktur, akuntabel, dan setara, NGO akan gagal menghadapi…
Oleh : Prof. Fuad Abdul Hamied,MA,Ph.D. (Ketua Dewan Pakar IKA UPI UPI) Tulisan ini adalah pengantar atas buku karya Sdr. Nunu A Hamijaya, yang saya kenal bukan hanya sebagai seorang penulis, tetapi sebagai seorang pemikir yang tekun dan memiliki kegelisahan intelektual yang mendalam. Kegelisahan itulah yang kemudian menjelma menjadi sebuah karya monumental yang ada di tangan pembaca saat ini: Politik Historiografi Negara Ummat: Konsep & Studi Kasus Islam Bernegara di Indonesia, 1916-1962. Buku ini bukan sekadar buku sejarah. Ia adalah sebuah ajakan untuk berpikir ulang, sebuah peta jalan untuk memahami bagaimana umat Islam di Indonesia ini merumuskan, memperdebatkan, dan memperjuangkan…
Oleh : Ganjar Kurnia Setelah Akal Sehat mendapat kursi, persoalannya belum selesai. Sebab di dalam ruangan, ia tidak duduk sendirian. Di sana sudah tersedia beberapa kursi lain, masing-masing ditempati oleh akal — dengan riwayat, kepentingan, pengalaman, dan cara mengangguk yang berbeda-beda. Ada akal politik, akal ekonomi, akal keamanan, akal kekeluargaan, dan—kalau masih ada tempat—akal sehat. Orang Luar yang kini menjadi Orang Dalam mungkin akan menyampaikan pikirannya apabila mendapat kesempatan. Kata “apabila” penting karena di dalam kekuasaan, kesempatan berbicara tidak selalu sama dengan kebebasan bersuara. Seseorang boleh berbicara, tetapi belum tentu didengar. Boleh didengar, tetapi belum tentu dicatat. Boleh dicatat, tetapi…
Oleh : Ganjar Kurnia Di dalam salah satu bagian pidato syukuran 100 tahun Pondok Pesantren Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal mengemukakan : sekarang ini …….kalau tidak punya ijazah, cari ijazah, kalau tidak punya uang cari uang, kalau tidak punya jabatan cari jabatan, kalau tidak punya muka, cari muka………..”. Istilah cari muka ini, menarik untuk didiskusikan. Walaupun cari muka tidak ada ilmunya, tidak ada di kitab kuning, tidak punya matan, tidak punya syarah dan tentu tidak punya hasyiyah, namun praktiknya sangat luas. Cari muka bukan sekadar ingin dipuji. Ia adalah seni menempatkan wajah pada kepentingan. Kalau kyai datang, wajah mendadak menjadi…
Organisasi Non-Pemerintah (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari sektor korporat. Motor penggerak utama NGO bukanlah profit, melainkan idealisme, misi sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, idealisme saja tidak cukup. Tanpa adanya team work (kerja sama tim) yang solid, program-program pemberdayaan dan advokasi yang direncanakan akan sulit mencapai dampak yang berkelanjutan. Membangun kerja sama tim di lingkungan NGO memiliki tantangan tersendiri, mulai dari pengelolaan keragaman latar belakang relawan hingga risiko kejenuhan kerja (burnout). Artikel ini akan membedah strategi taktis dalam membangun team work yang kokoh di dalam organisasi NGO. 1. Menyelaraskan Idealisme ke dalam Satu Visi…
Oleh : Ganjar Kurnia Setiap manusia memiliki wajah. Tetapi dalam kehidupan sosial, satu wajah sering dianggap tidak cukup. Maka manusia menciptakan wajah cadangan: topeng. Ada topeng untuk bertemu atasan, bawahan, orang kaya, orang miskin, bahkan topeng khusus ketika kamera televisi menyala. Topeng terakhir biasanya paling mahal karena dilengkapi senyum otomatis, air mata instan, dan kerutan keprihatinan sesuai kebutuhan. Sebelum keluar rumah, sebagian orang tidak lagi bertanya, “Baju apa yang saya pakai hari ini?” Mereka berdiri di depan lemari sambil berpikir, “Hari ini saya bertemu siapa?” Jika bertemu pejabat, dikenakan topeng kesetiaan. Kepala menunduk, suara dilembutkan, dan mulut disetel mengatakan, “Betul…
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) sering kali lahir dari sebuah kepedulian sosial yang besar. Semangat kerelawanan dan visi untuk membawa perubahan sosial menjadi bahan bakar utamanya. Namun, ketika organisasi mulai tumbuh dan mengelola program yang lebih besar, niat baik saja tidak lagi cukup.Banyak LSM menghadapi tantangan klasik: laporan keuangan yang berantakan, dokumen legalitas yang kedaluwarsa, hingga data penerima manfaat yang tercecer. Tanpa sistem administrasi yang rapih dan terarah, kredibilitas LSM di mata donor dan publik menjadi taruhannya.Lantas, bagaimana cara membangun fondasi administrasi LSM yang kokoh, transparan, dan akuntabel? Berikut adalah langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan.1. Standardisasi…
IPAMA
- Home
- News
- Organisasi
- Program
- Opini
- Kolom
- Portofolio
- Galeri