Author: Muhammad Sholikhul Aziz

Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) Pengantar: Antara Kuda Geladak dan Kuda Jingkrak Kuda Geladak—sebuah istilah yang kini kian asing di telinga masyarakat modern. Kehadirannya di jalan raya dewasa ini mungkin hanya dianggap sebagai hiburan atau tontonan nostalgia. Padahal, rekam jejak dan jasa masa lalunya sebagai tulang punggung transportasi peradaban sangat sulit tertandingi sebelum era otomotif mendominasi. Sangat bertolak belakang dengan Kuda Jingkrak (Prancing Horse), ikon kemewahan global yang senantiasa memicu decak kagum. Julukannya sebagai supercar sangat logis; spesifikasinya melompati standar kendaraan umum, terutama lewat luapan tenaga luar biasa yang dimilikinya. Mengingat pesan sejarah (Jas Merah), tidak…

Read More

Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR Bagi penggemar film kolosal, frasa “baju besi” langsung memanggil ingatan pada zirah perang prajurit Templar atau sang pahlawan gagah berani. Beda lagi dengan sudut pandang militer modern; baju besi adalah kendaraan tempur beroda rantai, lengkap dengan kompartemen amunisi, pelontar mortir dengan sudut putar 360 derajat, dan lambung lapis baja yang tangguh. Namun, ada dimensi yang jauh lebih unik dan substansial. Urusan baju besi adalah tentang semangat membela Pertiwi. Seseorang yang mengemudikan combine harvester di tengah ladang bisa memiliki gelora yang sama dengan prajurit di atas tank tempur. Semangatnya dilandasi…

Read More

Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENGANTAR: Konvergensi Biologis Palma dan Lebah Dalam ekosistem tropis Indonesia, representasi keluarga Palmae yang paling relevan dengan karakteristik kurma (Phoenix dactylifera) adalah kelapa (Cocos nucifera). Karakteristik utama dari rumpun Palmae ini adalah kemampuannya untuk berproduksi sepanjang tahun tanpa mengenal musim panen yang terputus. Setiap pelepah daun yang terbentuk selalu diiringi oleh kemunculan bakal buah (mancung). Merekahnya mancung secara kontinyu menyediakan nektar dan serbuk sari secara berkelanjutan. Karakteristik biologis ini menjadikan Palmae sebagai anchor crop (tanaman jangkar) yang mampu menyangga kehidupan koloni lebah secara terus-menerus. RELASI EKOLOGIS DALAM TEKS WAHYU: Urutan…

Read More

Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) PENDAHULUAN Ketika mendengar frasa hijāratim min sijjīl (حِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ), respons refleks dalam memori kolektif umat Islam umumnya langsung terasosiasi dengan Pasukan Bergajah, kawanan burung Abābīl, dan peristiwa fajar kelahiran Nabi Muhammad SAW—seorang bayi dari suku Quraisy yang kelak diangkat Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul penutup zaman. Namun, Al-Qur’an sebagai petunjuk sepanjang zaman tidak hanya menyajikan narasi sejarah sebagai fenomena spasial tunggal. Di balik peristiwa transendental tersebut, terdapat mekanisme hukum alam (Sunnatullah) yang dapat dibaca melalui kacamata geosains. Artikel ini mencoba mengurai dinamika hijāratim min sijjīl dari domain geologi…

Read More

Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) Pendahuluan: Perbedaan Sudut Pandang ​Mendengar kata Alfalfa, benak seorang praktisi/akademisi pertanian langsung tertuju pada sejenis tanaman perdu dari keluarga legum. Dipanen pada stadia vegetatif, ia adalah pakan berkualitas tinggi dan sumber pupuk organik unggulan. Statusnya bak “sosok flamboyan” karena berstatus introduksi dari kawasan subtropis. ​Namun, jika kata Alfalfa hinggap di telinga seorang mufasir atau ahli Al-Qur’an, memorinya akan langsung meluncur ke Surah An-Naba’ ayat 16. Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama (Kemenag) RI menyebutkan frasa ‘wajannatin alfaafa’ sebagai “dan kebun-kebun yang rindang”. Dari tafsir generik ini, tak jarang kata “rindang” dipersepsikan layaknya pohon raksasa sekelas beringin yang meneduhi dari…

Read More

Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat) 1. Pengantar: As-Sajar Al-Akhdhar dan Konversi Energi Illahi Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin [36]: 80: الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ “Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari pohon yang hijau, maka tiba-tiba kamu menyalakan (api) dari pohon extraction tersebut.” (QS. Yasin: 80) Secara eksoteris (dzahir), ayat ini kerap dipahami secara sederhana: pohon rindang yang menghijau dipangkas dahannya, dipbiarkan mengering, lalu kayu kering tersebut dimanfaatkan untuk memasak atau menghangatkan badan dari terpaan hawa dingin. Namun secara esoteris dan saintifik, ayat ini memuat tatanan matriks…

Read More