Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENGANTAR :
Kematangan Masyarakat Peternak di Akar Rumput
Masyarakat peternak di pedesaan hari ini telah bergerak jauh melampaui pola tradisional semata. Kesadaran ilmiah yang tumbuh di akar rumput memperlihatkan kemajuan pemikiran yang cerdas dan adaptif. Hal ini terlihat nyata dari penerapan teknologi pengolahan pakan berbasis fermentasi (silase/amoniase) untuk menjaga mutu gizi dan daya simpan, hingga penerapan rekayasa genetika tingkat dasar berupa kawin silang (Inseminasi Buatan/suntik) menggunakan bibit pejantan unggul.
Pada ternak sapi, perbaikan mutu genetik ini paling nyata terlihat ketika sapi betina lokal dikawinkan silang dengan ras unggul seperti Limousin, Simental, maupun Brahman. Fenomena serupa juga masif diterapkan pada unggas, kelinci, hingga domba/kambing. Pendekatan bioteknologi reproduksi dan pakan ini difokuskan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas daging dan susu sebagai penopang utama ketahanan pangan nasional.
Famili Ekuin:
Mengiringi Sejarah dan Mengukur Peradaban Manusia
Berbeda dari ruminansia dan unggas yang dominan dimanfaatkan sebagai sumber konsumsi, famili ekuin (kuda, keledai, dan bagal) memegang peranan unik yang melintasi sejarah peradaban manusia:
Kavaleri Zaman Firaun hingga Pasukan Kerajaan:
Kuda menjadi pilar kekuatan militer dan simbol kedaulatan politik sejak masa Mesir Kuno, kekhalifahan Islam, hingga era kerajaan nusantara.
Kendaraan Dakwah dan Transpor Kerajaan:
Ekuin menjadi sarana mobilitas utama bagi para nabi, ulama, dan penguasa dalam menyebarkan risalah dakwah serta mengelola wilayah perbatasan yang luas.
Balap Kuda dan Ketangkasan:
Kuda melatih kedisiplinan, keberanian, dan strategi tempur yang menempati posisi istimewa dalam tradisi olahraga ketangkasan.
Standar Ukuran Tenaga
Mekanis:
Warisan kekuatan ekuin begitu mendalam hingga era industri modern mengadopsi karakteristik fisiknya sebagai satuan standar daya mekanis, seperti Horsepower (HP) untuk daya dorong, torque (torsi) untuk gaya putar, dan traction (traksi) untuk daya cengkeram ke bumi.
Ekuin dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Sains Biologi
Allah SWT mengabadikan kedudukan tersendiri bagi famili ekuin dalam Al-Qur’an:
وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak ketahui.”
(QS. An-Nahl [16]: 8)
Tiga poin penting dari dimensi An-Nahl ayat 8 ini meliputi:
Makna Kedudukan Kuda dan Ekuin:
Ayat ini membedakan fungsi ekuin (litarkabūhā wa zīnah) dari hewan ternak konsumsi (al-an’ām) yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya. Ekuin dihadirkan sebagai sarana transportasi, penopang efisiensi kerja, serta nilai estetika (zīnah) penanda martabat peradaban.
Kawin Bastar Beda Genus dan Spesies (Bioteknologi Alami):
Bagal (Bighāl/Mule):
Hasil persilangan antara kuda betina (Equus caballus) dan keledai jantan (Equus asinus). Persilangan beda spesies dalam famili Equidae ini menghasilkan keturunan dengan daya tahan (stamina) luar biasa, bebas dari penderitaan penyakit bawaan tertentu, meski umumnya steril (kemandulan interspesifik).
Kambing (Capra hircus) dan Domba (Ovis aries): Secara biologi molekuler, keduanya berada pada genus yang berbeda (kambing bertanduk lurus dengan 60 kromosom; domba berbulu lebat dengan 54 kromosom). Persilangan alami antara keduanya amat langka (geep), sehingga rekayasa peternakan memerlukan pemahaman sitogenetika yang presisi.
Opini lain : https://ipama.id/kurma-dan-lebah-simbiosis-mutualisme-dan-transformasi-paradigma-pertanian-multi-implikasi/
Pendamping Peradaban:
Ekuin membuktikan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak melulu soal perut/makanan, melainkan tentang konektivitas geografis, penaklukan ruang, dan penyebaran nilai-nilai peradaban.
Bioteknologi:
Bukan Pelanggaran, Melainkan Keniscayaan Sunnatullah
Bioteknologi dalam peternakan sering kali dipahami secara keliru sebagai bentuk ‘intervensi tak berizin’ terhadap alam. Padahal, jika dibaca melalui kacamata tauhid kauniyah:
Hukum Rimba dan Seleksi Alam sebagai Sunnatullah:
Di alam liar, mekanisme alami secara konstan menyeleksi individu yang paling kuat dan adaptif (survival of the fittest). Ini adalah hukum sunnatullah untuk menjaga keunggulan populasi (best of the best).
Bioteknologi sebagai Manifestasi To The Best:
Inseminasi buatan, transfer embrio, perbaikan formulasi pakan, hingga pemuliaan ras merupakan jalan ilmiah manusia untuk mempercepat hadirnya keunggulan tersebut (To The Best) demi kemakmuran bumi.
To The Best Adalah Amal Soleh:
Mengoptimalkan potensi genetik dan efisiensi biologi makhluk ciptaan Allah untuk menghilangkan kelaparan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kedaulatan pangan adalah wujud nyata pengabdian dan kemakmuran bumi (Imaratul Ardh).
IPAMA:
Pelopor Bioteknologi Berbasis Qur’ani
Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) mengambil posisi strategis di depan: mendorong penerpakan bioteknologi tepat guna yang memadukan keunggulan sains modern dengan kedalaman hikmah Qur’ani.
Melalui penyuluhan, pendampingan teknologi fermentasi pakan, serta pemuliaan genetik ternak terarah, IPAMA berkomitmen membimbing masyarakat peternak menuju kemandirian ekonomi yang berkah, berdaulat, dan berkemajuan. Bioteknologi bukan sekadar alat industri, melainkan instrumen dakwah bil-hal untuk mencetak peradaban yang kuat (Qawiy) dan terpercaya (Amin).