Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENDAHULUAN
Ketika mendengar frasa hijāratim min sijjīl (حِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ), respons refleks dalam memori kolektif umat Islam umumnya langsung terasosiasi dengan Pasukan Bergajah, kawanan burung Abābīl, dan peristiwa fajar kelahiran Nabi Muhammad SAW—seorang bayi dari suku Quraisy yang kelak diangkat Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul penutup zaman.
Namun, Al-Qur’an sebagai petunjuk sepanjang zaman tidak hanya menyajikan narasi sejarah sebagai fenomena spasial tunggal. Di balik peristiwa transendental tersebut, terdapat mekanisme hukum alam (Sunnatullah) yang dapat dibaca melalui kacamata geosains. Artikel ini mencoba mengurai dinamika hijāratim min sijjīl dari domain geologi vulkanis menuju presisi geokimia pirolisis untuk pemulihan tanah (soil remediation) dan kedaulatan agrikultur.
MEMAHAMI HIJAROTIN MIN SIJJIL DENGAN PUZZLE LINTAS AYAT
Untuk memahami karakteristik material sijjīl, Al-Qur’an menyediakan petunjuk terdistribusi (puzzle) di berbagai surah yang saling menguatkan dan menjelaskan (Al-Qur’an yufassiru ba’dhuhu ba’dhan):
1. QS. Al-A’raf [7]: 84 — Fenomena hujan material:
\{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا…}
“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu)…”
2. QS. Hud [11]: 82 — Asal material dari tanah yang terbakar bertumpuk:
\{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ}
“…dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar bertubi-tubi.”
3. QS. Al-Hijr [15]: 74 — Hujan batu dari tanah yang keras:
\{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن
سِجِّيلٍ}
“…dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar/keras.”
4. QS. Al-Furqan [25]: 40 — Hujan meteorik/vulkanik yang merusak:
\{وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ…}
“Dan sungguh mereka telah melalui kota yang dijatuhi hujan yang buruk…”
5. QS. Ash-Shu’ara [26]: 173 — Peringatan atas material presipitasi buruk:
{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ}
“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka sangat buruklah hujan yang menimpa orang-orang yang diberi peringatan itu.”
6. QS. An-Naml [27]: 58 — Penegasan presipitasi destruktif:
\{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ}
“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka sangat buruklah hujan yang menimpa orang-orang yang diberi peringatan itu.”
7. QS. Al-‘Ankabut [29]: 40 — Karakteristik ukuran material (kerikil/tefra):
{فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا…}
“…di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil (hāshibān)…”
8. QS. Az-Zariyat [51]: 33 — Identifikasi spesifik material tanah:
{لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن طِينٍ}
“Agar Kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah (yang keras).”
9. QS. Al-Qamar [54]: 34 — Badai pembawa fragmen batuan:
{إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلا آلَ لُوطٍ…}
“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka badai yang membawa batu-batu kerikil…”
Konstruksi Konseptual:
Sintesis seluruh ayat di atas menunjukkan bahwa hijāratim min sijjīl adalah batu yang berasal dari prafase tanah (thīn) yang mengalami termalitas ekstrem (sijjīl) hingga memadat dan mengeras menjadi fragmen kerikil (hāshib), lalu terlontar secara atmosferik menyerupai hujan. Dalam konteks sejarah, fenomena ini menjadi instrumen pemusnah kaum yang mendurhakai hukum alam dan hukum ilahi.
HIJAROTIN MIN SIJJIL DALAM GEOLOGI VULKANIS
Dalam terminologi geologi modern, deskripsi Al-Qur’an mengenai hijāratim min sijjīl merepresentasikan fenomena erupsi vulkanik eksplosif.
Dapur Magma (Magma Chamber): Berada di kedalaman kerak bumi, batuan cair mengalami pemanasan ekstrem (700°C–1300°C) di bawah tekanan tinggi.
Asensi dan Degasifikasi: Magma naik melalui pipa kepundan (vent). Penurunan tekanan menyebabkan gas terlarut (H_2O, CO_2, SO_2) mengekspansi dan meledak.
Lontaran Piroklastik (Tephra & Lapilli): Magma dan dinding batuan terfragmentasi secara termal dan terlontar ke atmosfer.
Hujan Erupsi: Material pijar yang membeku di udara jatuh kembali ke bumi sebagai piroklastik, mencakup lapilli (kerikil vulkanik) dan bom vulkanik—inilah padanan empiris dari hijāratim min sijjīl.
ERUPSI SEBAGAI LETUSAN PEMBAWA RAHMAT KESUBURAN
Meskipun erupsi bersifat destruktif pada skala temporal pendek, dalam skala ekologis panjang, erupsi vulkanis adalah mekanisme pembaharuan bumi (Earth’s regenerative system):
Hidrologi: Abu vulkanik dan batuan porous (batu apung/scoria) membentuk akuifer alami yang meningkatkan kapasitas retensi air tanah dan mengisi cadangan air tanah dalam (deep groundwater).
Vegetasi & Pertanian: Material piroklastik melapuk menjadi tanah Andisol yang kaya akan mineral esensial (Fe, Mg, Ca, K, P). Lapisan ini memicu regenerasi vegetasi secara masif dan menjadikan kawasan vulkanis sebagai lahan paling subur di muka bumi.
KHALIFAH FIL ARDHI: BELAJAR DARI AYAT KAUNIYAH DAN QOULIYAH UNTUK MASLAHAT
Sebagai khalīfah fil ardh, manusia dituntut untuk tidak sekadar mengagumi fenomena alam, tetapi juga mentransformasikan sunnatullah menjadi sains aplikatif (rahmatan lil ‘ālamīn).
1. Studi Kauniyah
Analisis terhadap kawasan pasca-erupsi menunjukkan bahwa perpaduan antara biomassa terdegradasi termal, suhu tinggi tanpa oksigen sempurna, dan mineral tanah memicu pembentukan deposit karbon stabil dan revitalisasi struktur tanah secara alami.
2. Studi Qouliyah: Surat Al-Fil sebagai Road Map Geokimia Pirolisis
Surat Al-Fil menyajikan urutan proses sains geokimia yang presisi:
{تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ (5)}
Thairān Abābīl (طَيْرًا أَبَابِيلَ): Vektor pembawa material presipitasi dengan distribusi ukuran terukur (seukuran batu pada paruh dan cakar). Dalam rekayasa proses, ini melambangkan Keseragaman Ukuran Partikel (Particle Size Distribution) input biomassa/reaktan.
Bi Hijāratim min Sijjīl (بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ): Objek utama kajian—batuan/tanah yang diproses melalui termalitas tinggi. Dalam geokimia modern, ini adalah analogi dari Presipitasi Mineral dan Karbonasi Termal.
Fa Ja’alahum Ka’asfim Ma’kūl (فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ): “Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” Ini menunjukkan derajat suhu dan intensitas reaksi yang mampu mendegradasi struktur seluler organik secara total hingga menjadi matriks porous berpori mikro (karbon terpirolisis/kerak berpori).
AMALUS SHOLIHAH: KERJA KEBAIKAN DALAM GEOKIMIA PIROLISIS
Membumikan filosofi hijāratim min sijjīl dilakukan melalui rekayasa Geokimia Pirolisis Biocharcoal—proses dekomposisi termal biomassa terbarukan dan mineral tanah pada kondisi rendah/tanpa oksigen (anoksik).
Manfaat Ekologis dan Agrikultur:
Viskositas dan Struktur Tanah: Memperbaiki tata udara (aerasi) tanah liat dan meningkatkan daya ikat tanah berpasir.
Karbon Organik Tanah (Soil Organic Carbon – SOC): Mengunci karbon dalam bentuk terstabilkan (recalcitrant carbon) hingga ratusan tahun, mencegah emisi CO_2 sekaligus memitigasi perubahan iklim.
Peningkatan Tekstur dan Porositas: Membentuk matriks berpori mikro sebagai micro-habitat bagi mikroorganisme pelarut hara.
Infiltrasi Hidrologi: Meningkatkan Kapasitas Menahan Air (Water Holding Capacity – WHC), mengurangi limpasan permukaan (runoff), dan mencegah erosi.
Kapasitas Tukar Kation/Anion (KTK): Menghasilkan gugus fungsi berkarakteristik muatan negatif tinggi yang mengikat kation hara esensial (K^+, Ca^{2+}, Mg^{2+}) agar tidak mudah tercuci (leaching).
Imobilisasi Logam Berat dan Residu: Mereduksi bioavailabilitas logam berat (Pb, Cd, As) serta menetralisir residu pestisida melalui mekanisme adsorpsi permukaan.
KESIMPULAN
Hijāratim min sijjīl bukan sekadar catatan sejarah destruksi masa lalu, melainkan cetak biru (blueprint) hukum alam tentang bagaimana reaksi termal, mineral tanah, dan matriks organik bertransformasi. Melalui pemahaman terpadu antara Ayat Qouliyah dan Ayat Kauniyah, kita mampu merekayasa sains geokimia pirolisis menjadi Amalus Sholihah—sebuah kerja kebaikan strategis untuk mengembalikan kesuburan tanah, menjaga kedaulatan pangan, dan mewujudkan kemaslahatan peradaban di muka bumi.
