Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENGANTAR
Kenangan masa kecil sepulang menghadiri pengajian umum bersama rombongan naik mobil bak terbuka—satu-satunya di kampung—selalu membekas.
Malam itu, di tengah hembusan angin malam, muncul sebuah “pembuktian” polos anak-anak: apa yang disampaikan penceramah ternyata benar adanya! Gunung-gunung itu berjalan. Bahkan pohon-pohon dan tiang listrik di tepi jalan pun ikut berlari ke belakang.
Namun, apakah penglihatan masa kecil itu sebuah kebenaran, atau sekadar ilusi optik dari kendaraan yang sedang melaju? Apakah pemahaman masyarakat selama ini mengenai konsep “gunung berjalan” sudah berada pada pemaknaan yang tepat, atau justru terjebak dalam salah kaprah?
AL-QUR’AN TENTANG GUNUNG BERJALAN
Al-Qur’an secara eksplisit menegaskan fenomena gerakan gunung yang tidak tertangkap oleh persepsi indrawi manusia secara kasat mata sehari-hari. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Naml (27) ayat 88:
وَتَرَى ٱلْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِ ۚ صُنْعَ ٱللَّهِ ٱلَّذِى أَتْقَنَ كُلَّ شَىْءٍ ۚ إِنَّهُۥ خَبِيرٌۢ بِمَا تَفْعَلُونَ
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
AYAT KEBALIKANNYA: AWAN DAN GUNUNG
Untuk memahami dinamika pergerakan ini secara komprehensif, Al-Qur’an menghadirkan ayat yang menjadi pasangan simetris dari konsep di atas, yaitu penggambaran akumulasi dan pergerakan awan yang menyerupai struktur gunung. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nur (24) ayat 43:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَاءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِن بَرَدٍ…
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit: (yaitu) dari gunung-gunung (awan)…”
PENDEKATAN MAKNA AYAT LEBIH PRESISI: ETIMOLOGI DAN MEKANIKA PERGERAKAN
Untuk menyelaraskan pemahaman agar tidak salah kaprah, kita harus membedakan diksi pergerakan dalam Al-Qur’an:
Kata Tamurru (تَمُرُّ) pada Surah An-Naml:88 akar katanya adalah marra, yang bermakna melintas, bergeser, atau bergerak secara perlahan namun konstan bersama dengan medium/sistem besarnya, tanpa disadari oleh pengamat yang berada di atasnya (seperti pergerakan melintasnya awan di langit).
Diksi Tajri (تَجْرِي) biasa digunakan untuk pergerakan fluidis yang mengalir deras dan terlihat nyata secara dinamis (seperti air sungai atau kapal di laut).
Kata Yuzji (يُزْجِي) pada Surah An-Nur:43 bermakna mendorong atau mengarak secara bertahap dari massa kecil menjadi akumulasi massa yang masif.
Penggunaan kata Tamurru untuk gunung—bukan Tajri—menunjukkan bahwa gerak gunung bukanlah gerak melompat atau berpindah secara mandiri secara kasat mata, melainkan gerakan vektor kontinu yang terjadi karena gunung tersebut menumpang pada lempeng tektonik yang terus bergeser.
GUNUNG YANG DIMAKSUDKAN ADALAH GUNUNG TEKTONIK
Sains geologi modern (teori Plate Tectonics) mengonfirmasi bahwa kerak bumi terdiri dari lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak (continental drift).
Gunung sebagai Pasak (Autad):
Gunung memiliki akar mendalam di dalam litosfer yang menembus lapisan astenosfer.
Kecepatan Gerak: Lempeng tektonik tempat gunung berdiri bergeser rata-rata 1 hingga 10 sentimeter per tahun (setara dengan kecepatan pertumbuhannya kuku manusia).
Perspektif Pengamat: Karena manusia hidup di atas sistem lempeng tersebut, manusia menganggap gunung itu diam/statis (jamidah), padahal secara absolut terhadap sumbu bumi, gunung tersebut melintas (tamurru) secara berkelanjutan.
KLIMATOLOGI SEBAGAI PEMBANDING
Secara sains, terdapat simetri mekanis antara sistem Geologi (An-Naml: 88) dan Klimatologi (An-Nur: 43):
Geologi
(An-Naml: 88)
Massa & WujudPadat, Sangat Berat, Terikat Kerak Bumi
Gaya PenggerakArus Konveksi Mantell Bumi
Sifat Gerakan (Tamurru)
Hasil Output:
Keseimbangan
Kerak & Dinamika Daratan
Klimatologi
(An-Nur: 43)
Fluida/Gas, Ringan, Terikat Atmosfer
Arus Angin dan Tekanan udara
Melintas Perlahan
Diarak & Ditumpuk
(Yuzji / Rukaaman)
Hasil/ Output:
Siklus Air, Hujan, dan Es (Wadq)
Kedua ayat ini mengunci satu prinsip:
Massa yang sangat besar (baik batuan maupun akumulasi uap air) senantiasa digerakkan oleh sistem hukum alam (Sunnatullah) yang bekerja secara teratur di balik layar persepsi indrawi manusia.
AL-QUR’AN:
JALAN LAIN KESANA
Anak kecil di atas bak terbuka menganggap tiang listrik dan gunung berjalan karena ia menggunakan sudut pandang gerak relatif yang sederhana.
Al-Qur’an mendidik manusia melalui analogi visual agar manusia melompati keterbatasan persepsi fisiknya menuju pemahaman sains yang hakiki.
Al-Qur’an tidak hadir untuk membingungkan indra, melainkan menyediakan “Jalan Lain” (metode pembelajaran berlandaskan tadabbur):
Membawa manusia dari pengamatan kasat mata (observasi empiris) menuju pemahaman struktur fundamental (pengetahuan teoritis dan sistemik).
Mengajarkan bahwa apa yang tampak diam di permukaan, sering kali menyimpan dinamika dan perubahan besar di tingkat substrat/akar.
PENUTUP
Keberadaan fenomena ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk final yang presisi. Dalam konteks gerakan dan kajian strategis IPAMA, selalu ada jalan dan solusi terukur dari setiap tantangan zaman jika kita mampu membaca ayat-ayat pembuka realitas secara komprehensif—menggabungkan kedalaman nash dengan ketajaman ilmu pengetahuan.
Di mana ada kemauan untuk bertadabbur dan berinovasi, di situ selalu ada jalan.
