
ALLAH memberi jatah waktu kepada siapapun hanya 24 jam dalam sehari. Tentu kecuali orang Madura. Ingat, ketika Pemerintah melarang warung Madura buka 24 jam, esoknya warung-warung itu membuat pengumuman dan ditempel di muka kios-kiao mereka. Bunyinya,”Warung Madura, Buka 25 jam…!” Siapa bisa lawan Madura …

Oleh : Guntoro Soewarno, Ketua Dewan Direktur Institut Pengembangan Masyarakat (Ipama) – Pusat. Petani Organik sejak 2014, Founder Ali OrganicFarm (ALO FARM) – Kota Semarang, Pendiri Perkumpulan Petani Organik “Pandawa 5” – Yogyakarta, Komisaris Utama di PT Rig Global Investindo dan PT Aurora Alpha Centauri, tinggal di Kota Semarang.
Selama ini kebanyakan orang membagi waktu dalam tiga bagian penting. Sebanyak delapan jam untuk tidur, 8 jam lainnya untuk bekerja (bagi yang berprofesi sebagai karyawan) dan sisanya untuk keluarga dan lain-lainnya. Melihat komposisi seperti itu, waktu rasanya mengalir laiknya air sungai dari gunung. Mengalir begitu saja. Tanpa bentuk. Tanpa berfikir bahwa waktu adalah barang yang sangat berharga.
Berbeda dengan produk lain, waktu itu sifatnya sekali pakai habis. Mau dipakai apa tidak, habis setiap hari. Setiap jam. Setiap detik. Dan tidak bisa diperbaharui. Ia menggerogoti usia dan jatah waktu kita. Dengan kesadaran atau tidak. Ia tidak bisa diulang. Tiap detik habis dan habis. Setiap hari. Tidak peduli, kalian itu siapa.
Nyaris, kita tidak pernah berfikir bagaimana menghargai waktu. Bagaimana disiplin waktu. Bagaimana memanfaatkan waktu agar hidup kita berkualitas.
Contoh sederhana itu budaya molor. Jarang kita disiplin menghargai waktu. Meeting jam 10.00, baru mulai pukul 11.00. Ada 1 jam terbuang percuma. Benar-benar percuma. Dan kasus ini seperti biasa. Bisa dimaklumi. Padahal ini kekonyolan yang paling sempurna.
Kalau pola perdelapan jam kita terapkan, sejatinya kita masih punya sisa waktu delapan jam lainnya. Sisa delapan jam, sejattinya ini kesempatan kita untuk bisa menjadi berkualitas. Tentu dengan catatan, sisa delapan jam itu benar-benar kita gunakan untuk hal-hal yang bermutu. Hal-hal yang sangat berkelas.
Pengusaha Sukses
Salah satu ciri pengusaha sukses itu sangat menghargai waktu. Sangat disiplin waktu. Tidak akan pernah molor kalau ada agenda meeting. Ia menghargai waktu karena dia punya kesadaran penuh bahwa jatah waktu itu terbatas dan sekali pakai habis.
Dia tidak pernah membuang-buang waktu dengan percuma; Nongkrong-nongkrong sambil merokok. Ngobrol ngalor-ngidul menggunjingkan hal-hal yang tidak penting. Waktu yang begitu berharga dan mewah dibuang begitu saja. Laiknya sampah. Ia tidak akan pernah berlama-lama main catur. Atau punya hobi mancing berjam-jam. Ribut di group-group wa membahas yang tidak penting. Sesuatu yang absurd.
“Waktu itu sifatnya sekali pakai habis. Mau dipakai apa tidak, habis setiap hari. Setiap jam. Setiap detik. Dan tidak bisa diperbaharui. Ia menggerogoti usia dan jatah waktu kita.”
Saya tidak pernah melihat pengusaha yang kelasnya sudah kaya-raya, bahkan super kaya raya ngopi di pinggir jalan sambil ngobrol berkepanjangan. Buat mereka tabu. Atau Sandiaga Uno main catur sampai larut malam.
Saya kenal pengusaha di Purwakarta, namanya pak Mesakh Supriyadi. Duitnya tidak berseri. Bisnis intinya jaringan hotel kelas menegah. Bisnis sampingannya Pilkada. Karena hampir semua calon selalu pinjam uang ke dia. Sekali pinjam bisa Rp 10 miliar, Rp 50 miliar. Usai Pilkada aset propertinya naik tajam. Karena yang kalah kemudian membayar dengan aset.
Bagaimana dia menghargai waktu? Setiap pekerjaan apapun, dia kerjakan dengan sesegera mungkin. Apapun. Satu saat saya bertanya,”Kok gitu pak?” Jawabnya,”Waktu kita terbatas. Dan kita tidak tahu 1 menit ke depan kita masih ada apa tidak. Maka dari itu kerjakan apapun sesegera mungkin.” Sy bersyukur tiga tahun pernah berbisnis bersama dia. Saya banyak belajar dengan pak Mesakh soal waktu.
Dream Book
Di Indonesia Islamics Business Forum (IIBF), guru bisnis saya pak Heppy Trenggono mewajibkan anak didiknya untuk selalu mencatat hal penting dan rencana hari ini, di pagi hari, setiap hari. Ia sebut sebagai “My Accuntability Book.” Saya menyebutnya “Dream Book.” Kelihatannya sepele. Tiap pagi mencatat banyak hal penting. “Ini directions. Hidup kalian jadi sangat terarah dan berkualitas,” ujarnya.
Saat mencatat itu,”Itulah Your Time.” Itulah waktumu. Waktu di mana kalian berdiskusi dan berfikir tentang diri sendiri, Heppy menambahkan.
Lalu apa yang dicatat setiap pagi itu?
A. Target Akherat
B. Target Dunia, yang dibagi menjadi 3 bagian
- Jangka Panjang
- Jangka Menengah
- Jangka Pendek
C. Target Hari Ini (kerjakan dua hal saja sampai tuntas hari ini yang realistis, misal meeting dengan perhutani dan selesaikan administrasi bank. Cukup dua hal saja)
Jarang yang disiplin mencatat hal prinsip dalam hidup ini setiap hari. Maka menjadi wajar, kalau jalan hidupnya menjadi biasa-biasa saja. Tidak akan muncul kesadaran kualitatif untuk menghargai waktu.
Dream Book adalah My Time. Waktu-ku. Untuk merenungi diri. Banyak koreksi. Jangan-jangan untuk merumuskan target akherat saja gak paham. Apalagi membuat dengan realistis target-target jangka panjang, sampai jangka pendek. Hidup menjadi tidak punya arah. Itu sangat berbahaya.
“Orang bermental kaya itu sangat menghargai waktu. Karena dia punya kesadaran penuh bahwa jatah waktu itu terbatas dan sekali pakai habis.”
Siapapun yang disiplin denga My Time, mencatat setiap pagi, maka dia akan terus mengoreksi diri. Apa-apa yang sudah dicatat setiap pagi direnungkan. Ditakar. Apa iya ini yang aku rumuskan. Terjadi dialog ke dalam. Makin ke dalam semakin mengenal siapa diri kita.
Itulah pentingnya My Time. Itulah hakekatnya Dream book. Dialog ke dalam. Dengan diri sendiri. Kita akan semakin mengenal siapa diri kita hari ini. Sekualitas apa kita. Sudah pantaskah kita merumuskan kalimat,”Super Kaya Raya pada 2030″ dalam dream book kita?
Buat Waktu Berkualitas
Merumuskan ulang tentang hidup, kemudian menjadi sangat penting. Review ulang bagaimana cara kita berbisnis. Kembangkan My Time-My Time lainnya. Sehingga waktu yang kita gunakan menjadi sangat berkelas.
Untuk keluarga buat rumusan baru. Bahwa “My Family is The first Client.” Sesibuk apapun, melayani isteri dan anak itu yang paling utama. Lupakan yang lainnya.
Apa efeknya ke dalam bisnis kita? Ubah cara bermainnya ; Dari menjadi owner business yang merangkap menjadi pembantu umum, bahkan sesekali menjadi office boy, menjadi “Semakin berkembang bisnis dan omzet kita, semakin besar dan kuat skala bisnis kita, maka akan semakin punya banyak waktu luang untuk keluarga dan membantu banyak orang.
Sisihkan waktu barang 2-3 jam tenggelam di toko buku. Seminggu sekali saja. Ini My Time. Orang pada umumnya tidur 8 jam. Kita cukup 4 jam. Sisa 2 – 3 jam, sekitar pukul 03.00 – 04.00, gunakan untuk bersimpuh. Berbicara langsung dengan Allah. Menagis. Menuntut ke Allah lansung. Ini My Time yang lain.
Perlu juga My Time dengan cara tiap pagi menyirami tanaman bunga dan buah di depan rumah bersama isteri. Sisakan 1 jam. Lakukan 1 bulan sekali ngariung dengan anak dan cucu seharian penuh. Ini My Time yang lain. Atau pas libur panjang ajak anak, isteri dan cucu liburan. Bisa ke Yogya, Bali selama 2-3 hari. Sesekali Umroh bersama, atau liburan ke Paris. Ini juga My Time.
Semakin banyak My Time yang kita rumuskan dengan pola dan kultur kita masing-masing, maka kualitas hidup kita akan sangat bermutu. Waktu yang kita punya akan sangat berkualitas.
Kalian sudah punya sebanyak apa My Time yang sudah menjadi kebiasaan? Ayo kita rumuskan dengan hati riang gembira. (Editor : Widdy Apriandi)
Tulisan ini saya dedikasikan untuk Petani Organik member skill up kelas Reguler dan Platinum
1 Komentar
Pingback: CARI MUKA – IPAMA