Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

1. Pengantar: As-Sajar Al-Akhdhar dan Konversi Energi Illahi
Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin [36]: 80:
الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ
“Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari pohon yang hijau, maka tiba-tiba kamu menyalakan (api) dari pohon extraction tersebut.” (QS. Yasin: 80)
Secara eksoteris (dzahir), ayat ini kerap dipahami secara sederhana: pohon rindang yang menghijau dipangkas dahannya, dipbiarkan mengering, lalu kayu kering tersebut dimanfaatkan untuk memasak atau menghangatkan badan dari terpaan hawa dingin.
Namun secara esoteris dan saintifik, ayat ini memuat tatanan matriks konversi energi terbarukan termutakhir. “Pohon hijau” adalah instrumen biologis yang mengubah radiasi foton menjadi biomassa dan simpanan energi yang siap ditransformasikankan untuk kelangsungan hidup.
2. Pohon Hijau: Simpul Kelangsungan Kehidupan dan Poros Ekosistem
Pohon hijau memegang peran sentral dalam menjaga stabilitas planet bumi melalui berbagai dimensi fundamental:
Trofik Produsen Utama: Menyediakan basis energi dan nutrisi utama bagi trofik yang lebih tinggi dalam jejaring makanan ekosistem.
Hidrologi: Memelihara siklus air, menahan laju erosi, serta menjaga deposit air tanah.
Klimatologi: Menjadi regulator suhu bumi, penyerap emisi, serta pemelihara keseimbangan mikroklimat.
Penyedia Matriks Kehidupan Manusia: Mengirimkan sumber energi biologis, proteksi lingkungan, material konstruksi, hingga sarana transportasi.
3. Direct Access Makrokosmos: Sinergi Matahari dan Pohon Hijau
Al-Qur’an mengabadikan peristiwa interaksi energi kosmik ini dalam beberapa surat, yang diawali dengan sumpah Ilahi sebagai penanda pentingnya peristiwa tersebut:
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
“Demi matahari dan sinarnya di pagi hari (energi dhuha).” (QS. Asy-Syams [91]: 1)
وَالضُّهَى
“Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalan).” (QS. Ad-Dhuha [93]: 1)
Interaksi makrokosmik antara radiasi foton matahari dengan pigmen klorofil pada pohon hijau telah dibakukan dalam persamaan fotosintesis:
6CO2+6H2O+Foton = C6 H12 O6 + 6O2
Kelestarian pohon hijau melalui dinamika fotokimia ini berimplikasi langsung pada regenerasi kehidupan serta ekuilibrium jagat raya. Sebaliknya, eksploitasi dan perusakan atas vegetasi hijau adalah bentuk pemanggilan nyata atas bencana ekologis.
4. Pelanggaran atas Pohon Hijau: Horizon Pengetahuan Awal Manusia
Peristiwa diusirnya Nabi Adam AS dan pasangannya dari surga diabadikan dalam Al-Qur’an:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga ini, dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 35)
Melalui lensa tadabbur, tafakkur, dan tadzakkur, peristiwa tersebut terjadi pada fase awal penciptaan manusia. Kapasitas nalar dan kognitif manusia pada masa itu berada dalam tingkat paling dasar—suatu pengenalan ontologis di mana manusia baru diajarkan nama-nama benda:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا…
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 31)
Pada fase kognisi dasar tersebut, pengajaran dengan tingkat kompleksitas ilmiah (rumus-rumus kosmik) belum memungkinkan untuk diterapkan; sikap terbaik saat itu adalah ketaatan murni.
Keterbatasan nalar rasional di masa awal ini terbukti kembali pada peristiwa pembunuhan pertama di bumi antara anak Adam, di mana manusia belum tahu bagaimana mengurus jenazah sesamanya hingga Allah mengutus burung gagak:
فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ…
“Kemudian Allah mengutus seorang burung gagak menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya…” (QS. Al-Ma’idah [5]: 31)
Ketika Adam dan pasangannya mendekati dan memakan buah dari pohon yang dilarang tersebut, hal itu berisiko menghentikan proses generatif (rusaknya benih/biji buah untuk keberlanjutan). Maka sebagai hikmah pembelajaran, keduanya dipindahkan ke bumi. Apabila tidak dipindahkan, dengan keterbatasan nalar manusia saat itu, pohon tersebut bisa saja dicabut hingga ke akar-akarnya. (A’udzubillahi minasy-syaithanir-rajim, wallahu ‘Alimun Hakim).
5. IPAMA sebagai bagian dari Ahlul Hikmah (Ulul Albab)
Mengambil peran sebagai Khalifah fil Ardh, IPAMA berupaya mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan prinsip Al-Qur’an:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat (Ulul Albab).” (QS. Al-Baqarah [2]: 269)
Transformasi Knowledge \rightarrow Sintesis \rightarrow Hikmah diejawantahkan IPAMA melalui langkah-langkah strategis:
A. Pemetaan Holistik & Selektif
Melakukan pemetaan berbasis klastering untuk menentukan strategi konservasi as-sajar al-akhdhar secara terukur.
B. Misi Carbon Sink & Carbon Trading berbasis Ukhuwah (QS. Al-Hujurat: 13)
Penguatan carbon sink baik berupa tegakan vegetasi maupun deposit karbon aktif, yang diintegrasikan dengan kerja sama perdagangan karbon global (carbon trading). Upaya ini dilandasi oleh spirit diplomasi antarbangsa demi mencapai derajat ketakwaan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
C. Sintesis Keseimbangan
Human – Zoo – Phyto
Mengaktifkan dan mensintesiskan basis sumber daya manusia (human), fauna (zoo), dan flora (phyto) guna mewujudkan equilibrium of earth dalam pola simbiosis mutualisme.
D. Sosio-Ekonomi Berbasis Agroforestri Kerakyatan
Menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan agroforestri dan agronomi untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) serta semangat pelestarian di tingkat masyarakat tapak/kehutanan.
E. Biodiversitas & Double Value Added
Integrasi program biodiversitas dan diversifikasi pangan berkelanjutan dengan program carbon deposit menghasilkan double value:
Nilai Bagi Masyarakat: Mengangkat kesejahteraan dan membesarkan hati masyarakat lokal.
Nilai Bagi Mitra/Pembeli Karbon (Buyer): Pelibatan aktif masyarakat memberikan nilai tambah (added value) serta credit point yang kuat bagi kredibilitas IPAMA di tingkat internasional.
6. Penutup
Mari kita jadikan narasi “Pohon Hijau” (As-Sajar Al-Akhdhar) sebagai refleksi perjuangan IPAMA dalam mengambil peran sejarah sebagai Khalifah fil Ardh—memelihara tatanan alam raya sekaligus menjadi lead actor dalam aksi nyata Carbon Credit dan Carbon Sink.
Semoga Allah SWT meridhai setiap ikhtiar ini.
”IPAMA HEBAT — TETAP SEMANGAT SAMPAI AKHIR HAYAT!”
