Oleh : Ganjar Kurnia

Kursi wakil presiden di sebuah negara yang namanya dirahasiakan, tiba-tiba menggigil.
“Kenapa kau gemetar?” tanya meja kabinet.
“Aku mendengar kata pemakzulan,” jawab kursi. “Katanya, kalau penghuninya membuat rakyat pusing, yang diangkat adalah kursinya.”
Sejak itu, kursi memasang sabuk pengaman. Ia takut terlempar dari panggung sejarah, tersungkur di hadapan mikrofon, lalu diwawancara wartawan: Bagaimana perasaan Anda setelah ditinggalkan pemilik?
Di istana negara tersebut, kata pemakzulan langsung dimasukkan ke ruang isolasi. Kata itu dianggap berbahaya, bisa menular melalui percakapan, tulisan, bahkan alis yang terangkat. Petugas menyemprotkan disinfektan setiap kali ada orang menyebutnya. Namun, kata itu tetap hidup. Ia ada di balik pasal hukum, menyamar jadi tanda tanya, lalu masuk ke ruang rapat lewat ventilasi.
GANJAR KURNIA
Lahir : Bandung, 3 Januari 1956 Dewan Pakar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jawa Barat Akademisi dan Budayawan asal Bandung, Jawa Barat. Rektor Universitas Padjadjaran periode 2007 – 2015. Guru Besar sosiologi pertanian di Unpad

“Pemakzulan itu kudeta!” teriak seseorang.
“Bukan,” kata ahli tata negara. “Pemakzulan adalah proses konstitusional.”
“Kalau begitu, kenapa bunyinya seperti petasan?”
“Karena yang meledak bukan konstitusi. Tapi kesabaran rakyat.”
Di luar gedung, rakyat berkumpul. Ada yang membawa poster, ada yang membawa payung, ada pula yang membawa kalkulator. Mereka ingin menghitung berapa kali bohong berubah menjadi alasan. Sayang, kalkulatornya kehabisan baterai saat angka-angka mulai menunjukkan gejala yang tidak masuk akal.
Sementara itu, para pejabat membentuk tim pencari fakta. Tim itu mencari fakta ke mana-mana, sampai ke tempat fakta utamanya. Mereka memeriksa arsip ke lemari, ruang makan, kolam ikan, dan kulkas istana. Di dalam kulkas ditemukan tiga kotak martabak, dua botol minuman lembek, serta berbungkus-bungkus kebohongan yang belum kedaluwarsa.
“Jangan dibuka!” seru seorang pejabat. “Nanti baunya mengganggu stabilitas.”
Maka kebohongan itu kembali disimpan. Diselipkan di antara puding dengan bungkus potongan kertas sambutan kenegaraan.
Pemakzulan pun menjadi seperti bayangan: makin dihindari, makin panjang. Ia mengikuti langkah siapa saja yang merasa kebal, lalu berdiri di belakangnya saat kamera menyala. Ada yang berteriak bahwa rakyat tidak paham hukum. Rakyat menjawab, “Tapi kami paham benar salah.”
Ada pula yang berkata, “Biarkan proses berjalan. ”Proses pun berjalan. Jalannya berputar-putar mengelilingi gedung, melewati pintu bertuliskan demi kepentingan bangsa, lalu berakhir di ruang tunggu.
Di sana, pemakzulan duduk bersebelahan dengan keadilan. Keduanya sudah mengambil nomor antrean sejak lama, tetapi layar pemanggil terus menampilkan: Mohon bersabar. Aspirasi Anda sedang diproses.
Kursi wakil presiden akhirnya berhenti menggigil. Bukan karena keadaan membaik, melainkan karena ia sadar: kursi tidak bisa dimakzulkan. Yang bisa pergi hanyalah penghuninya—melalui aturan, keputusan, dan kehendak rakyat.
Tiba-tiba meja kabinet berbisik kepada kursi: “Semoga siapa pun yang duduk di sana mengerti satu hal………..”
“Apa?”
“Jangan suka merasa aman. Kaki kursi wakil presiden hanya empat, sementara kaki kesabaran rakyat, tak terhitung …………….. ”
101026
Dipublikasin Oleh IPAMA PUSAT
