Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENGANTAR
Dunia akademik dan publik sempat dihebohkan oleh gagasan populer bahwa manusia berasal dari kera. Asumsi ini tidak muncul dari ruang hampa. Secara empiris, dunia paleontologi menemukan rekonstruksi fosil makhluk hidup yang menunjukkan gradasi fisik: dari yang berjalan merangkak, merunduk/membungkuk, hingga akhirnya berdiri tegak (upright walking). Dari gambaran morfologis inilah, sebagian kalangan menyimpulkan bahwa telah terjadi proses evolusi bertahap dalam rentang waktu yang sangat panjang—di mana waktu bukan lagi batasan, melainkan perubahan fisik dipandang sebagai sebuah keniscayaan.
DARWIN BERBEDA DENGAN DARWINISME
Charles Robert Darwin menyusun teorinya berdasarkan pengamatan terbaik yang bisa dicapai pada abad ke-19. Sebagai seorang naturalis, beliau tidak pernah membayangkan bahwa gagasan ilmiahnya kelak berubah menjadi doktrin yang dipertahankan dengan fanatisme dogmatis. Teori evolusi Darwin pada masanya adalah lompatan hipotesis sains yang paling maju, mengingat saat itu disiplin ilmu modern seperti genetika molekuler dan biokimia belum lahir.
DARWINISME MEMBABI BUTA
Dalam perkembangannya, sebagian pendukung fanatik “Darwinisme” berupaya mempertahankan gagasan asal-usul tunggal ini secara rigid. Gagasan missing link sering kali dijadikan argumen retoris untuk menjembatani celah transisi fosil yang tak pernah benar-benar terbukti. Padahal, bangunan dasar hipotesis ini telah mendapatkan koreksi mendasar ketika ilmu genetika berkembang pesat—diawali oleh hukum pewarisan sifat Gregor Mendel hingga penemuan struktur DNA—yang membuktikan pembatasan speciation dan kompleksitas informasi genetik yang tidak mungkin lahir sekadar dari acakan mutasi acak tanpa desain.
APAKAH MANUSIA PURBA KETURUNAN ADAM?
Ketika dihadapkan pada penemuan fosil manusia purba (Hominid seperti Australopithecus, Homo erectus, hingga Neanderthal), sebagian cendekiawan Muslim meresponsnya dengan kegamangan: “maybe yes, maybe no”. Kegamangan ini menyiratkan ironi bagi umat yang memegang petunjuk yang tegas dan sempurna.
Al-Qur’an menegaskan posisinya sejak awal:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَـٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
Jika Al-Qur’an adalah hudan (petunjuk), mengapa ada kegagapan dalam menjelaskan fenomena makhluk purba? Allah SWT juga memberikan jaminan kemudahan Al-Qur’an untuk dipahami dan diambil pelajaran, yang diulang hingga 4 kali dalam satu surah:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17, 22, 32, 40)
Pengulangan ini merupakan teguran retoris dari Al-Qur’an: Apakah para ilmuwan dan cendekiawan telah menempuh jalan li dzikri (mengambil peringatan dan ilmu), atau justru terjebak pada narasi luar tanpa kembali pada kebenaran Kalamullah?
SURAT AL-HIJR:
ISYARAT TEGAS ANTARA GENERASI PURBA DAN MANUSIA
Al-Qur’an memberikan petunjuk sistematis mengenai periodisasi pemeliharaan dan penciptaan makhluk di bumi. Dalam Surah Al-Hijr, Allah SWT meletakkan isyarat konseptual mengenai keberadaan generasi terdahulu sebelum penciptaan Al-Insan.
وَلَقَدْ عَلِمْنَا ٱلْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا ٱلْمُسْتَـْٔخِرِينَ
“Dan sungguh, Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu (al-mustaqdimin) di antara kamu dan Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (al-musta’khirin).”
(QS. Al-Hijr: 24)
Secara kontekstual dan teologis, kata al-mustaqdimin memuat isyarat keberadaan keberlanjutan makhluk atau generasi fisik sebelum era manusia modern. Makhluk-makhluk purba ini memiliki konstruksi fisik yang identik secara biologis—seperti bentuk tulang, struktur berjalan membungkuk, kapasitas otak yang lebih kecil, serta belum dilengkapinya struktur laring dan pita suara yang kompleks—sehingga secara hakiki mereka belum layak disebut sebagai manusia (Al-Insan).
Baru kemudian pada ayat 26, Al-Qur’an secara spesifik memperkenalkan istilah Al-Insan:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن صَلْصَـٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Al-Insan) dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
(QS. Al-Hijr: 26)
Penyebutan Al-Insan membedakan makhluk berakal, bermoral, dan berkesadaran ketuhanan ini dari generasi makhluk sebelumnya. Bahkan pada ayat 27, Allah menjelaskan bahwa bangsa Jin telah diciptakan sebelum penciptaan manusia (Al-Insan):
وَٱلْجَٓانَّ خَلَقْنَـٰهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (manusia) dari api yang sangat panas.”
(QS. Al-Hijr: 27)
Rangkaian ayat dalam Surah Al-Hijr (mulai dari hamparan bumi pada ayat 19 hingga penciptaan Adam) menunjukkan urutan ciptaan yang tertata rapi. Manusia purba dapat dipahami sebagai makhluk biologis pra-Adam yang menghuni bumi, namun Adam AS adalah awal dari spesies Al-Insan—makhluk yang tidak hanya memiliki fisik tegak, tetapi juga diberi ruhh, pencerahan intelektual (wa ‘allama Adamal-asma’a kullaha), serta tanggung jawab sebagai khalifah.
MEMAHAMI AYAT DENGAN CERDAS, BUKAN DENGAN ANGKUH
Selama ini kerap berkembang batasan etis dan metodologis yang terlampau kaku dalam menafsirkan ayat. Begitu banyak energi terkuras untuk menguasai formalitas “ilmu alat” (balaghoh, ilmu tafsir, kaidah fiqih, ilmu hadis), namun eksekusi nyata untuk menjawab tantangan sains modern dari ayat-ayat tersebut sering kali minim. Kaidah ilmu tentu sangat penting sebagai rambu, namun jangan sampai kaidah formal justru mempersulit dan mengaburkan substansi petunjuk Al-Qur’an.
Allah SWT mengingatkan betapa luasnya dimensi ilmu yang terkandung dalam firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَـٰمٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِن بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَـٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi setelah keringnya, niscaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS. Luqman: 27)
IPAMA: HARMONISASI QOULIYAH DAN KAUNIYAH
Tugas keilmuan hari ini adalah menyelaraskan antara ayat-ayat Qouliyah (wahyu tertulis) dan ayat-ayat Kauniyah (realitas alam dan IPTEK).
Al-Qur’an memberikan fondasi ilmu (Knowledge), sedangkan IPTEK menyediakan alat analisis (Sintesis). Ketika keduanya diselaraskan secara tepat tanpa kecenderungan apologetis maupun dogmatis, IPAMA menghadirkan Hikmah—sebuah cara pandang yang jernih, objektif, dan solutif bagi peradaban manusia.