Oleh: Muhammad Sholikhul Aziz (Ketua Bidang Kajian Strategis IPAMA Pusat)

PENGANTAR
Bukan lautan hanya kolam susu,
Kail dan jala cukup menghidupimu,
Tiada topan tiada badai kau temui,
Ikan dan udang menghampiri dirimu…
Potongan lirik lagu legendaris dari Koes Plus tersebut menggambarkan suasana kehidupan bersahaja. Hanya dengan alat dan perlengkapan sederhana, para nelayan mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Situasi laut yang tenang dan bersahabat ini tercipta karena para nelayan memahami betul fenomena perilaku alam lautan—mereka melaut saat lautan berada dalam kondisi “jinak”.
Namun, kejinakan lautan bukanlah sebuah kebetulan matematis. Ada sistem universal yang mendasarinya, sebuah ketetapan yang memungkinkan manusia memanen keberkahan dari samudra.
DIALAH YANG MENUNDUKKAN LAUTAN
Ruh dari seluruh fenomena keteraturan lautan ini terangkum secara sempurna di dalam Al-Qur’an, Surat An-Nahl ayat 14:
وَهُوَ ٱلَّذِى سَخَّرَ ٱلْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا۟ مِنْهُ لَحْمً۠ا طَرِيًّ۠ا وَتَسْتَخْرِجُوا۟ مِنْهُ حِلْيَةً۠ تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى ٱلْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari keuntungan dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)
Makna Terperinci Ayat:
Penyediaan Logistik (Daging yang Segar): Kata sakhkhara (menundukkan) mengindikasikan bahwa ekosistem laut telah diatur agar biologinya relevan dengan metabolisme manusia. Protein laut disediakan sebagai sumber ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Ekonomi Ekonomi & Material Berkualitas (Perhiasan):
Laut menyimpan kekayaan non-pangan (mutiara, deposit mineral, sumber daya hayati) untuk menopang peradaban dan kesejahteraan ekonomi.
Fisika Terapan & Logistik (Bahtera yang Membelah Lautan):
Hukum fluida, gaya apung, dan angin ditundukkan sedemikian rupa sehingga perairan menjadi jalur transportasi dan perdagangan antarbangsa yang efisien.
Mandat Eksplorasi & Syukur:
Perintah laitabtaghū min faḍlihī adalah dorongan ilmiah dan teknologis untuk mengeksplorasi potensi laut, yang berujung pada pengakuan atas keagungan Sang Pencipta (lā’allakum tasykurūn).
MEMAHAMI MAKNA MENUNDUKKAN: PERSPEKTIF SAINS DAN EKOLOGI
Pengertian “menundukkan” bukan berarti manusia berkuasa secara eksploitatif, melainkan Allah Swt. menyelaraskan hukum-hukum fisika dan biologi laut agar dapat dimanfaatkan oleh akal manusia.
1. Jejak Geologis Periode Gletser
Pada masa Glacial Maximum, es menutupi sebagian besar daratan bumi. Ketika es mencair, daratan tenggelam dan membentuk paparan dangkal hingga puluhan kilometer dari garis pantai saat ini. Kawasan paparan inilah yang kini menjadi zona neritik—lingkungan paling ideal dengan sinar matahari yang cukup, menjadikannya rumah bagi mayoritas biota laut dan sumber protein utama manusia.
2. Ketundukan pada Sinar (Fototaksis)
Biota laut memiliki sifat alami fototaksis positif—kecenderungan bergerak mendekati sumber cahaya. Fenomena penundukan sunnatullah ini dimanfaatkan oleh nelayan secara tradisional maupun modern melalui teknik light fishing untuk memanen hasil laut secara efisien.
3. Ketundukan pada Umpan (Respons Instingtif)
Berbeda dengan binatang liar di darat yang cenderung menjauh dan lari saat didekati manusia, biota laut memiliki keterbatasan dalam membedakan umpan buatan dengan mangsa alami. Ketergantungan instingtif mereka terhadap stimulasi umpan membuat mereka mendekat, sebuah pola perilaku yang memungkinkan teknik pemancingan dan penangkapan ikan bekerja.
4. Ketaatan Kapasitas Fotosintesis Laut
Fitoplankton dan tumbuhan laut ditundukkan untuk memiliki efisiensi fotosintesis yang sangat tinggi—bahkan diperkirakan berkontribusi memproduksi oksigen jauh melebihi vegetasi darat. Laut adalah “paru-paru utama” bumi yang menyerap CO₂ dan menopang siklus kehidupan global.
5. Harmoni Fenomena Alam
Dinamika pasang-surut, arus, serta gelombang laut adalah mekanisme penyeimbang suhu bumi. Manusia dituntut tunduk dan beradaptasi dengan kearifan lokal (local wisdom) serta kalkulasi navigasi yang tepat untuk membaca ritme alam ini.
AGENDA REKONSTRUKSI IPAMA: MENCEGAH KERUSAKAN DI BUMI
Ketika lautan yang ditundukkan ini dirusak oleh serakahnya eksploitasi, maka keseimbangan akan pecah. Hal ini telah diperingatkan di dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) mengambil peran sebagai Agent Aslikhu—agen perbaikan yang menjawab tantangan kerusakan laut (adhoharol fasadu) dan mendukung pencapaian SDGs No. 14 (Life Below Water / Ekosistem Lautan) melalui langkah teknis dan aksi nyata berbasis komunitas:
Reboisasi Zona Abrasi & Biodiversitas Pantai:
Melakukan restorasi kawasan pesisir dengan penanaman vegetasi pantai (seperti mangrove dan api-api) guna mengembalikan benteng alami pantai dan memulihkan habitat memijah (nursery ground) bagi biota laut.
Optimalisasi Carbon Sink:
Memaksimalkan kawasan pesisir dan laut dangkal sebagai penyerap karbon alami (blue carbon) yang efektif dalam meredam dampak perubahan iklim global.
Peredam Gelombang Ramah Lingkungan (Pemberdayaan Bahan Lokal):
Membangun struktur pemecah gelombang (breakwater) di zona pantai dalam sebelum masuk ke zona dangkal. Struktur ini menggunakan material bambu ramah lingkungan yang dipasang secara presisi. Selain berfungsi meredam energi gelombang penghancur, struktur bambu ini bertindak sebagai rumpon sintetis/terumbu karang buatan yang menyediakan ruang tumbuh bagi mikroorganisme dan tempat berlindung biota pantai.
PENUTUP
Menundukkan laut bukanlah menaklukkannya dengan kesombongan teknologi, melainkan membaca ayat-ayat kauniyah-Nya dengan ketundukan akal dan kesadaran lingkungan. Melalui sinergi antara sains, kearifan lokal, dan pemahaman Al-Qur’an, IPAMA berkomitmen untuk terus menghadirkan formulasi berbasis solusi bagi peradaban pesisir yang berdaya, berdaulat, dan berkelanjutan.
1 Comment
Pingback: DEMI TIN : DEMI FLOW FOOD SOVEREIGNTY – IPAMA