Penulis: Ipama Pusat

Oleh : IPAMA PUSAT Abrasi pantai merupakan salah satu ancaman terbesar bagi ekosistem pesisir Indonesia. Penanaman mangrove sering kali menjadi solusi utama untuk mengatasi masalah ini. Namun, menanam mangrove di area yang sudah terkena abrasi parah memiliki tantangan yang sangat besar. Gelombang laut yang kuat dapat dengan mudah menghanyutkan bibit mangrove yang baru ditanam sebelum mereka sempat memperkokoh akarnya. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk menahan abrasi terlebih dahulu agar proses penanaman mangrove dapat berjalan sukses dan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa cara efektif yang bisa diterapkan: 1. Pemasangan Alat Pemecah Gelombang (APG) Alami (Hybrid Engineering) Sebelum bibit mangrove ditanam,…

Read More

Oleh : Rochmad (Pengurus IPAMA JATENG) Menanam mangrove jangan berhenti pada seremoni menancapkan bibit ke lumpur, berfoto, lalu selesai. Mangrove membutuhkan sesuatu yang lebih panjang: merawat, melindungi, mengatur, dan memastikan masyarakat pesisir mendapatkan manfaat dari keberadaannya. Rembang memiliki cerita panjang tentang mangrove. Dari percakapan dengan para pegiat lingkungan pesisir, terungkap bahwa masyarakat telah menanam mangrove sejak sekitar 1960-an. Gerakan itu berkembang dari waktu ke waktu, bahkan kawasan mangrove Pasar Banggi kini menjadi salah satu ruang konservasi, edukasi, penelitian, dan wisata lingkungan. Pemerintah Kabupaten Rembang juga masih melakukan penanaman. Pada 25 Mei 2026, misalnya, sekitar 1.000 bibit mangrove ditanam di kawasan…

Read More

Oleh : IPAMA PUSAT Wilayah Jawa Barat Utara (Jabar Utara) kini tengah bertransformasi menjadi salah satu koridor ekonomi paling strategis di Indonesia. Secara geografis, kawasan ini mencakup wilayah-wilayah penting seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Cirebon, hingga Majalengka. Jika wilayah Jabar Selatan lebih menonjol dengan potensi pariwisata alam dan agrikulturnya, Jabar Utara diarahkan menjadi episentrum industri, logistik, manufaktur modern, dan ketahanan pangan nasional. Dengan hadirnya mega proyek infrastruktur, optimalisasi kawasan Jabar Utara diharapkan mampu memecah kepadatan ekonomi di Jabodetabek sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang inklusif dan berkelanjutan. 1. Peta Potensi Ekonomi Utama Jabar Utara Pengembangan ekonomi di kawasan…

Read More

  Oleh : IPAMA PUSAT Kawasan pesisir Jawa Tengah Utara—meliputi wilayah strategis seperti Semarang, Demak, Pekalongan, hingga Brebes—kini berada di garis depan pertempuran melawan dampak perubahan iklim global. Fenomena kenaikan permukaan air laut yang berpadu dengan penurunan muka tanah (land subsidence) memicu banjir rob yang kian intens, mengancam mata pencaharian, infrastruktur, dan keberlangsungan ruang hidup masyarakat. Menghadapi realitas ini, pendekatan top-down dari pemerintah saja tidak lagi mencukupi. Dibutuhkan sebuah paradigma baru yang bertumpu pada Penguatan Kelembagaan Lokal dan Sistem Adaptasi Mandiri yang berakar kuat di tengah masyarakat.  1. Urgensi Penguatan Kelembagaan Lokal Kelembagaan lokal—baik yang bersifat formal seperti Pemerintahan Desa…

Read More

Oleh : IPAMA PUSAT Kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah saat ini berada di garda terdepan dalam menghadapi dampak nyata krisis iklim global. Fenomena triple threats yang melanda kawasan ini—yaitu kenaikan permukaan air laut rata-rata sebesar 4,3 mm per tahun, laju penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang ekstrem hingga 10–16 cm per tahun, serta meningkatnya intensitas cuaca ekstrem—telah mengubah struktur geografis secara permanen. Kota dan kabupaten seperti Pekalongan, Demak, Semarang, hingga Pati kini harus berdamai dengan banjir rob menahun yang menenggelamkan pemukiman, fasilitas publik, dan ribuan hektare lahan produktif. Menghadapi ancaman yang bersifat eksistensial ini, pendekatan mitigasi yang hanya…

Read More

Oleh : IPAMA PUSAT Krisis ekologis yang melanda kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah telah mencapai titik kritis yang mengancam stabilitas ekonomi makro regional. Kombinasi amblesan tanah (land subsidence) yang mencapai 10–16 cm per tahun di Pekalongan dan Demak, serta kenaikan permukaan air laut setinggi 4,3 mm per tahun, telah memicu hilangnya ruang produktif masyarakat pesisir. Sektor perikanan budidaya dan tangkap tradisional yang selama ini menjadi motor ekonomi utama kini lumpuh. Lebih dari 50.000 hektare lahan tambak produktif bandeng dan udang berubah menjadi laut terbuka. Menghadapi hilangnya aset produksi primer ini, masyarakat pesisir Pantura tidak bisa lagi bergantung pada…

Read More

Oleh : IPAMA PUSAT Peringatan Hari Tani Nasional pada 24 September 2026 membawa momentum refleksi yang mendalam bagi masa depan agraria di Indonesia. Lahir dari momentum historis pengesahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960), hari ini dirancang sebagai pengingat akan pentingnya keadilan tanah dan kesejahteraan bagi mereka yang merawat bumi Nusantara. Di tahun 2026, perayaan ini mengusung tema besar “Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Indonesia Maju”. Tema tersebut menggarisbawahi realitas objektif bahwa fondasi ketahanan ekonomi dan politik sebuah bangsa bermula dari kedaulatan atas sawah dan ladangnya sendiri. Namun, di tengah retorika swasembada, sektor agraris nasional…

Read More

Oleh : IPAMA PUSAT Kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah saat ini menjadi laboratorium nyata bagi dampak krisis iklim global. Wilayah delta seperti Demak, Pekalongan, dan Semarang Utara tidak hanya menghadapi kenaikan permukaan air laut rata-rata global yang mencapai 4,3 mm per tahun, tetapi juga dihadapkan pada ancaman lokal berupa penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang masif berkisar antara 10 hingga 16 cm per tahun. Selama bertahun-tahun, proyek infrastruktur kaku (hard structures) seperti seawall beton menjadi andalan. Namun, struktur beton frontal kerap memicu abrasi sekunder di wilayah sekitar, memerlukan biaya investasi tinggi, serta memutus konektivitas ekosistem laut. Sebagai solusinya,…

Read More