Penulis: Ipama Pusat
Oleh : IPAMA PUSAT Kawasan Pesisir Jawa Tengah bagian Utara (Pantura) kini berada dalam kondisi kritis akibat fenomena krisis iklim multidimensi. Pesisir Jateng Utara bukan lagi sekadar menghadapi ancaman musiman, melainkan bencana permanen akibat perpaduan antara kenaikan muka air laut global dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang ekstrem. Untuk menyelamatkan ruang hidup jutaan jiwa, model pembangunan konvensional yang bersifat fisik semata (seperti pembangunan tanggul) terbukti tidak cukup. Diperlukan strategi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas (community-based empowerment) yang memosisikan warga lokal sebagai aktor utama pemulihan lingkungan dan ekonomi mereka sendiri. 1. Data Spesifikasi dan Besaran Krisis Lingkungan Pantura Jateng Berdasarkan data…
Oleh : IPAMA PUSAT Pembangunan infrastruktur di wilayah Jawa Barat Selatan (Jabar Selatan) kini menjadi salah satu prioritas strategis nasional dan daerah untuk mengikis ketimpangan ekonomi dengan wilayah utara [Bappeda Jabar, 2024]. Kawasan yang membentang dari Kabupaten Sukabumi hingga Pangandaran ini menyimpan potensi luar biasa di sektor agribisnis, kelautan, dan pariwisata. Namun, keterbatasan kapasitas anggaran daerah (APBD) sering kali menjadi batu sandungan utama. Untuk merealisasikan lompatan besar dalam pembangunan jalan tol, pelabuhan logistik, dan fasilitas publik yang adaptif terhadap mitigasi bencana, diperlukan inovasi sinergi pembiayaan yang dipadukan dengan pendekatan kolaborasi Pentahelix. 1. Tantangan Pendanaan dan Urgensi Inovasi Pembiayaan Membangun infrastruktur…
Oleh : IPAMA PUSAT Provinsi Jawa Barat sering kali diidentikkan dengan gemerlap industri metropolitan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun, narasi sukses ini jika dibedah lebih dalam masih menyisakan ketimpangan spasial yang nyata. Koridor Jawa Barat Utara (Jabar Utara) melesat menjadi episentrum manufaktur dan investasi nasional, sedangkan wilayah Jawa Barat Selatan (Jabar Selatan)—yang membentang dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Pangandaran—cenderung bergerak lebih lambat. Ketertinggalan ini bukanlah cerminan dari minimnya potensi, melainkan akibat dari keterbatasan aksesibilitas. Wilayah Jabar Selatan memiliki kekayaan agraria yang subur, potensi maritim yang melimpah, serta keindahan alam yang eksotis. Untuk mengubah potensi pasif ini…
Oleh : IPAMA PUSAT Sektor pertanian di Indonesia lama dibayangi oleh ancaman krisis regenerasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas petani di Indonesia didominasi oleh kelompok usia di atas 45 tahun. Namun, di koridor Jawa Barat Selatan—meliputi Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Pangandaran—sebuah gerakan perubahan sedang bergulir. Melalui program Petani Milenial yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, generasi muda kini kembali ke ladang. Mereka tidak lagi membawa cangkul tradisional, melainkan smartphone, drone, dan pemikiran bisnis modern untuk mengubah sektor agraris subsisten menjadi industri yang sangat menjanjikan. Mengapa Jabar Selatan Menjadi Fokus Utama? Jawa Barat…
Oleh : IPAMA PUSAT Kawasan Jawa Barat Selatan, yang membentang dari Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, hingga sebagian Ciamis, secara historis dikenal sebagai wilayah penyangga komoditas agraris yang melimpah. Karakteristik geografisnya yang didominasi pegunungan subur dan garis pantai yang panjang menciptakan potensi luar biasa bagi sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Namun, tantangan klasik seperti rantai distribusi yang terlalu panjang, fluktuasi harga komoditas mentah, serta berkurangnya minat generasi muda menjadi petani (petani milenial) masih membayangi wilayah ini. Sebagai langkah strategis nasional, pemerintah melalui koordinasi lintas sektor gencar mendorong modernisasi (penerapan teknologi) dan hilirisasi (pengolahan produk mentah menjadi produk bernilai tambah) demi…
Oleh : IPAMA PUSAT Pariwisata konvensional sering kali terjebak dalam pola pembangunan yang berpusat pada kapital besar, di mana masyarakat lokal hanya menempati posisi sebagai penonton atau pekerja upahan berpenghasilan rendah. Untuk wilayah Jawa Barat bagian selatan yang kaya akan potensi alam dan budaya, pola ini harus diubah. Wilayah pesisir, pegunungan, dan pedesaan di Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran membutuhkan model pembangunan yang inklusif. Di sinilah Community-Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Komunitas hadir sebagai solusi strategis untuk mengikis kesenjangan dan membangun kemandirian ekonomi dari akar rumput. CBT bukan sekadar konsep bertamasya, melainkan sebuah pendekatan pengelolaan destinasi di mana…
Oleh : IPAMA PUSAT Ketika wilayah utara Jawa Barat melesat dengan deru mesin industri modern, wilayah selatan Jawa Barat justru menyimpan potensi lain yang tidak kalah bernilai: kekayaan alam yang megah dan asri. Membentang dari Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran, Jabar Selatan dianugerahi bentang alam yang eksotis. Mulai dari garis pantai samudra yang menakjubkan, air terjun tersembunyi, hingga hamparan pegunungan hijau yang diselimuti kabut. Melihat potensi tersebut, sektor pariwisata berbasis keberlanjutan (sustainable tourism) bukan lagi sekadar alternatif hiburan, melainkan instrumen strategis yang dapat memicu lompatan ekonomi. Melalui konsep Eco-Tourism (ekowisata) dan Community-Based Tourism (Pariwisata Berbasis Komunitas), Jabar Selatan berpeluang…
Oleh : IPAMA PUSAT Ketimpangan spasial masih menjadi tantangan struktural yang nyata bagi Provinsi Jawa Barat. Wilayah Jawa Barat bagian utara—yang ditopang kuat oleh sektor industri manufaktur, infrastruktur modern, dan akses logistik yang superior—berkembang pesat menembus koridor ekonomi nasional. Sebaliknya, wilayah Jawa Barat bagian selatan yang berbasis agraris dan bertumpu pada sektor primer cenderung berjalan lebih lambat. Agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berpusat di satu kutub, pengurangan kesenjangan wilayah ini harus terus menjadi prioritas kebijakan strategis yang dieksekusi secara berkelanjutan. Akar Kesenjangan Dua Koridor Kunci utama dari cepatnya akselerasi di wilayah utara adalah aglomerasi industri dan konektivitas tinggi, seperti adanya…
Oleh : IPAMA PUSAT PERATURAN DESA ………………..NOMOR …. TAHUN 2026 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA PENGELOLA HUTAN DESA (LPHD) “………………..”DESA ……………….. KECAMATAN ………………..KABUPATEN ……………….. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAKEPALA DESA ……………….., Menimbang: Mengingat: MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DESA TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA PENGELOLA HUTAN DESA (LPHD) “………………..” DESA ………………… BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1Dalam Peraturan Desa ini yang dimaksud dengan: BAB II NAMA, KEDUDUKAN, DAN JANGKA WAKTU Pasal 2Lembaga Pengelola Hutan Desa yang dibentuk bernama LPHD “………………..” (selanjutnya disebut LPHD). Pasal 3LPHD berkedudukan di Desa ……………….. Kecamatan ……………….. Kabupaten ……………….. Pasal 4LPHD dibentuk untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, selaras dengan jangka…
Oleh : IPAMA PUSAT Mendapatkan hak legal untuk mengelola hutan negara melalui skema Hutan Desa (HD) adalah langkah besar menuju kemandirian ekonomi desa. Melalui Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa (PPHD), desa Anda diberikan hak mengelola kawasan hutan secara sah selama 35 tahun. Namun, proses birokrasi dan administrasi sering kali dianggap rumit oleh masyarakat lokal. Artikel ini merangkum seluruh proses tersebut ke dalam 6 tahapan utama, mulai dari musyawarah di balai desa hingga terbitnya SK resmi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Tahap 1: Musyawarah Desa dan Pembentukan LPHD Langkah pertama harus dimulai dari kesepakatan tingkat akar rumput melalui Musyawarah Desa…
IPAMA
- Home
- News
- Organisasi
- Program
- Opini
- Kolom
- Portofolio
- Galeri