{"id":9937,"date":"2026-10-06T07:08:00","date_gmt":"2026-10-06T00:08:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ipama.id\/?p=9937"},"modified":"2026-10-06T20:02:41","modified_gmt":"2026-10-06T13:02:41","slug":"politik-historiografi-negara-ummat-epistemologi-membaca-sejarah-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ipama.id\/en\/politik-historiografi-negara-ummat-epistemologi-membaca-sejarah-masa-depan\/","title":{"rendered":"Peta Jalan Terminologi Negara dalam Perspektif Islam"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh : Prof.\u00a0 Fuad\u00a0\u00a0 Abdul\u00a0 Hamied,MA,Ph.D. (Ketua Dewan Pakar IKA UPI\u00a0 UPI)<\/strong><\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-post-featured-image\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1536\" src=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007.jpg\" class=\"attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image\" alt=\"\" style=\"object-fit:cover;\" srcset=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007.jpg 1024w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007-200x300.jpg 200w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007-683x1024.jpg 683w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007-768x1152.jpg 768w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007-8x12.jpg 8w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007-150x225.jpg 150w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261003-WA0007-450x675.jpg 450w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan ini adalah&nbsp;&nbsp; pengantar atas buku&nbsp;&nbsp; karya Sdr. Nunu A Hamijaya, yang saya kenal bukan hanya sebagai seorang penulis, tetapi sebagai seorang pemikir&nbsp;&nbsp; yang tekun dan memiliki kegelisahan intelektual yang mendalam. Kegelisahan itulah yang&nbsp;&nbsp; kemudian&nbsp;&nbsp; menjelma menjadi sebuah karya monumental yang ada di tangan pembaca saat ini: Politik Historiografi Negara Ummat: Konsep &amp; Studi Kasus Islam Bernegara di Indonesia, 1916-1962.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku ini bukan sekadar buku sejarah. Ia adalah sebuah ajakan untuk berpikir ulang, sebuah peta jalan untuk memahami bagaimana umat Islam di Indonesia ini merumuskan, memperdebatkan, dan memperjuangkan gagasan tentang negara. Penulis tidak hanya menyajikan kronologi peristiwa, tetapi menawarkan sebuah &#8220;pisau bedah&#8221; epistemologis yang ia sebut sebagai Politik Historiografi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi saya, ada beberapa gagasan dalam buku ini yang sangat berharga dan layak untuk kita renungkan bersama. Pertama, tentang keberanian untuk bersikap kritis terhadap sejarah. Penulis tidak terjebak pada romantisme masa lalu, namun juga tidak serta-merta menelan narasi tunggal yang selama ini kita warisi. Ia mengajak kita untuk membedakan antara fakta, konteks, dan makna. Sebagaimana dikemukakan dalam buku ini: &#8220;Kita tidak kembali kepada sejarah untuk tinggal di dalam masa lalu. Kita kembali kepada sejarah untuk mengetahui dari mana kita berdiri, apa yang harus kita warisi, apa yang harus kita koreksi, dan ke mana kita mungkin berjalan.&#8221; (Halaman 44) Kutipan ini menjadi roh dari seluruh buku ini. Penulis menegaskan bahwa sejarah adalah laboratorium, bukan penjara. Ia adalah sumber pelajaran, bukan alat pembenaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, buku ini menawarkan sebuah kerangka konseptual yang orisinal dan berani. Gagasan tentang &#8220;Sanad Islam Bernegara&#8221; adalah sebuah kontribusi pemikiran yang signifikan. Penulis tidak memaknai sanad secara sempit sebagai rantai periwayatan hadis, melainkan sebagai kesinambungan prinsip, pengalaman, dan orientasi politik dari masa Wahyu, Nubuwwah, Madinah, hingga konteks Indonesia. Ia mengajak kita untuk tidak terjebak pada salinan bentuk masa lalu, melainkan menggali prinsipnya yang abadi. Sebagaimana dijelaskan: &#8220;Yang kita cari bukan sekadar bentuk yang pernah ada, melainkan prinsip yang membuat suatu pengalaman politik mempunyai makna tertentu.&#8221; (Halaman 71) Inilah yang membuat buku ini relevan, karena ia menawarkan cara pandang yang dinamis dan tidak monolitik terhadap hubungan Islam dan negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga, dan yang paling saya kagumi, adalah keberanian penulis untuk merumuskan sebuah konstruksi pemikiran tentang &#8220;Negara Ummat.&#8221; Ini bukanlah sebuah utopia atau nostalgia terhadap masa lalu, melainkan sebuah hipotesis konseptual yang dibangun dari pembacaan sejarah yang jernih. Penulis dengan sangat hati-hati menempatkan negara sebagai wasilah (sarana), bukan tujuan akhir. Ia menempatkan umat sebagai subjek, bukan objek. Ia menempatkan kekuasaan sebagai amanah, bukan alat untuk mempertahankan kekuasaan. Dalam salah satu bagian yang sangat menyentuh, penulis merumuskan inti dari visinya: &#8220;Negara Ummat bukan negara yang hanya diperuntukkan bagi umat Islam&#8230; Justru di sinilah kualitas Negara Ummat diuji. Jika Islam menjadi orientasi normatif negara, maka keadilan tidak boleh hanya berlaku bagi mereka yang memiliki identitas yang sama dengan mayoritas. Keadilan harus menjadi pengalaman seluruh warga.&#8221; (Halaman 155)<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text is-stacked-on-mobile\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-9939 size-full\" srcset=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied.jpg 1024w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied-150x150-1.jpg 150w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied-300x300.jpg 300w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied-768x768.jpg 768w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied-12x12.jpg 12w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Prof-Fuad-Abdul-Hamied-450x450.jpg 450w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Tempat &amp; Tanggal Lahir:<\/strong> Garut, 21 Agustus 1950.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pendidikan S1:<\/strong> FPBS IKIP Bandung (lulus tahun 1976).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pendidikan S2 &amp; S3:<\/strong> Beliau merupakan alumni program Fulbright yang menempuh studi <em>Master of Arts<\/em> (M.A., 1980) dan <em>Doctor of Philosophy<\/em> (Ph.D., 1982) di <a href=\"https:\/\/stu.aminef.or.id\/alumny\/detail\/1596\/Fuad-Abdul-Hamied\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serika<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gagasan ini sangat penting dalam konteks Indonesia yang majemuk. Buku ini tidak sedang menawarkan negara teokrasi, melainkan sebuah visi tentang tata kelola kehidupan bersama yang berorientasi pada nilai-nilai keadilan, amanah, dan musyawarah, yang bersumber dari Islam, namun berdampak rahmat bagi seluruh alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa buku ini penting untuk dibaca sekarang? Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan kompleks: fragmentasi sosial, polarisasi politik identitas, erosi kepercayaan publik terhadap institusi, dan godaan populisme yang dangkal. Dalam konteks inilah, buku ini menawarkan relevansi yang sangat kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1. Melawan Polarisasi dengan Pemahaman Sejarah yang Utuh: Buku ini mengajak kita untuk keluar dari dikotomi &#8220;kubu A vs kubu B&#8221; dalam membaca sejarah. Dengan memahami bahwa RI dan NII, misalnya, adalah dua cermin dari satu pergulatan sejarah yang sama (Halaman 126), kita diajak untuk melihat kompleksitas dan saling memahami, bukan saling menyalahkan. Ini adalah antidot terhadap politik identitas yang sempit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. Menawarkan Etika Kekuasaan: Di tengah maraknya kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang, gagasan bahwa kekuasaan adalah amanah dan harus dibatasi oleh konstitusi, diawasi, serta dipertanggungjawabkan menjadi sangat relevan. Buku ini tidak hanya mengkritik, tetapi menawarkan sebuah arsitektur kekuasaan yang berorientasi pada keadilan dan pelayanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3. Membangun Kematangan Berpolitik: Penulis menekankan bahwa &#8220;mayoritas demografis bukan otomatis mayoritas politik&#8221; (Halaman 131). Ini adalah panggilan bagi umat Islam Indonesia, yang merupakan mayoritas, untuk tidak hanya berpuas diri dengan jumlah, tetapi terus membangun kapasitas politik, intelektual, dan moral. Kematangan politik adalah kunci untuk menjadi subjek sejarah, bukan sekadar objek mobilisasi politik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">4. Merawat Visi Kebangsaan yang&nbsp;&nbsp; Berkeadaban: Visi &#8220;rahmatan lil-&#8216;alamin&#8221; yang diusung buku ini sejalan dengan cita-cita pendiri bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Buku ini menawarkan sebuah kerangka di mana nilai-nilai spiritual dan etika bernegara dapat menjadi fondasi, bukan sekadar hiasan, dalam membangun Indonesia yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Membaca buku ini adalah sebuah perjalanan intelektual yang menantang sekaligus mencerahkan. Penulis tidak memberikan jawaban-jawaban instan, melainkan mengajak kita untuk berpikir kritis, merenung, dan pada akhirnya, bertanggung jawab atas masa depan yang ingin kita bangun. Sebagaimana pesan penulis di bagian akhir: &#8220;Sejarah belum selesai. Dan selama sejarah belum selesai, tanggung jawab kita juga belum selesai.&#8221; (Halaman 249)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-ipama wp-block-embed-ipama\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Ej9q5x1d5p\"><a href=\"https:\/\/ipama.id\/en\/value-added-dan-produk-organik\/\">VALUE ADDED<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cVALUE ADDED\u201d \u2014 IPAMA\" src=\"https:\/\/ipama.id\/value-added-dan-produk-organik\/embed\/#?secret=6HB58eyqfl#?secret=Ej9q5x1d5p\" data-secret=\"Ej9q5x1d5p\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya mengucapkan selamat kepada Sdr. Nunu A Hamijaya atas karya yang luar biasa ini. Saya berharap buku ini dapat menjadi pemantik diskusi yang sehat dan konstruktif di ruang-ruang akademik, komunitas, dan ruang publik Indonesia. Selamat membaca, dan mari bersama-sama merawat harapan untuk masa depan yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Isola&nbsp; Bumi&nbsp; Siliwangi,&nbsp; 18 September 2026\/ 7 Rabiul Akhir 1448 H&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(dipblikasikan oleh : IPAMA PUSAT)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Prof.\u00a0 Fuad\u00a0\u00a0 Abdul\u00a0 Hamied,MA,Ph.D. (Ketua Dewan Pakar IKA UPI\u00a0 UPI) Tulisan ini adalah&nbsp;&nbsp; pengantar atas buku&nbsp;&nbsp; karya Sdr. Nunu A Hamijaya, yang saya kenal bukan hanya sebagai seorang penulis, tetapi sebagai seorang pemikir&nbsp;&nbsp; yang tekun dan memiliki kegelisahan intelektual yang mendalam. Kegelisahan itulah yang&nbsp;&nbsp; kemudian&nbsp;&nbsp; menjelma menjadi sebuah karya monumental yang ada di<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":9938,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[489,9],"tags":[23,206,451,452,448],"class_list":["post-9937","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-headline","category-opini","tag-ipama","tag-ipama-pusat","tag-ma","tag-ph-d","tag-politik-historiografi-negara-ummat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9937"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9937\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10219,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9937\/revisions\/10219"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9938"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}