{"id":9931,"date":"2026-10-05T07:48:00","date_gmt":"2026-10-05T00:48:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ipama.id\/?p=9931"},"modified":"2026-10-06T20:11:14","modified_gmt":"2026-10-06T13:11:14","slug":"cari-muka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ipama.id\/en\/cari-muka\/","title":{"rendered":"Cari Muka"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh : Ganjar Kurnia<\/strong><\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-post-featured-image\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1408\" height=\"768\" src=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA.jpg\" class=\"attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image\" alt=\"\" style=\"object-fit:cover;\" srcset=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA.jpg 1408w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-300x164.jpg 300w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-1024x559.jpg 1024w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-768x419.jpg 768w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-18x10.jpg 18w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-150x82.jpg 150w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-450x245.jpg 450w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/CARI-MUKA-1200x655.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 1408px) 100vw, 1408px\" \/><\/figure>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam&nbsp; salah satu bagian pidato syukuran 100 tahun Pondok Pesantren Gontor, KH&nbsp; Hasan Abdullah Sahal mengemukakan : sekarang ini \u2026\u2026.kalau tidak punya ijazah, cari ijazah, kalau tidak punya uang cari uang,&nbsp; kalau tidak punya&nbsp; jabatan cari jabatan, kalau tidak punya muka, cari muka\u2026\u2026\u2026..\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah cari muka ini, menarik untuk didiskusikan. Walaupun cari muka tidak ada ilmunya, tidak ada di kitab kuning, tidak punya matan, tidak punya syarah dan tentu tidak punya hasyiyah, namun praktiknya sangat luas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cari muka bukan sekadar ingin dipuji. Ia adalah seni menempatkan wajah pada kepentingan. Kalau&nbsp; kyai datang, wajah mendadak menjadi sangat tawadhu; kalau ada pejabat datang, wajah berubah menjadi sangat hormat; kalau ada orang kaya datang, senyumnya naik dua Tingkat; kalau bertemu rakyat, memperlihatkan wajah iba; kalau bertemu calon mertua, solat sosiologis; kalau kamera datang, wajah terlihat sangat sumringah, dst.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitulah muka. Ia punya kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Ada yang tersenyum kepada semua orang, tapi bukan karena ramah. Membantu mengangkat kursi, bukan karena kursinya berat, tapi&nbsp; karena yang akan duduk adalah orang penting. Rajin hadir dalam acara,&nbsp; bukan karena menarik, tapi&nbsp; karena daftar hadirnya. Ada yang lebih hebat lagi : hadir dalam foto, tanpa hadir dalam kegiatannya. Semacam kehadiran simbolik, tidak ikut bekerja,\u201d tetapi fotonya tersebar dimana-mana. Masyarakat mungkin menyimpulkan: \u201cWah, beliau sangat aktif\u201d, padahal yang aktif hanya editing AI nya saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi pesantren, diajarkan adab kepada guru, kepada ilmu, kepada orang tua, kepada&nbsp; sesama, dsb. Tetapi di zaman modern, rupanya ada satu adab baru yang tidak diajarkan tetapi secara naluri sering dipraktekkan: adab kepada kamera. Kalau kamera datang, jangan membelakangi. Kalau foto bersama, usahakan dekat pejabat dan berada di tengah. Kalau bisa, bahu bersentuhan. Kalau memungkinkan, tangan menyentuh pundak orang yang pangkatnya lebih tinggi. Bukan untuk mencari berkah. Hanya untuk mencari sudut kamera.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text is-stacked-on-mobile\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img decoding=\"async\" width=\"765\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-765x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-9934 size-full\" srcset=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-765x1024.jpg 765w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-224x300.jpg 224w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-768x1028.jpg 768w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-9x12.jpg 9w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-149x200.jpg 149w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-449x602.jpg 449w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar.jpg 896w\" sizes=\"(max-width: 765px) 100vw, 765px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GANJAR KURNIA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lahir : Bandung, 3 Januari 1956                Dewan Pakar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jawa Barat             Akademisi dan Budayawan asal <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bandung\">Bandung<\/a>, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Barat\">Jawa Barat<\/a>.                                                    Rektor <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Universitas_Padjadjaran\">Universitas Padjadjaran<\/a> periode 2007 \u2013 2015.                                                                 Guru Besar sosiologi pertanian di Unpad<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal yang menarik, para pencari muka biasanya tidak merasa sedang mencari muka. Ia merasa sedang menjaga hubungan.<br>\u201cIni bukan cari muka,\u201d katanya.<br>\u201cTapi&nbsp; membangun komunikasi.\u201d<br>\u201cIni bukan menjilat.\u201d<br>\u201c Tapi menjaga silaturahmi.\u201d<br>\u201cIni bukan pencitraan.\u201d<br>\u201cTapi dokumentasi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahasa ternyata sangat penting. Menjilat disebut komunikasi. Membungkuk disebut penghormatan. Memuji berlebihan disebut apresiasi. Mengikuti ke mana-mana disebut loyalitas, dan mencari muka disebut bagian membangun dari \u201cnetworking\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada pula pencari muka yang sangat religius. Ia mengutip ayat, mengutip hadis, mengutip perkataan ulama. Ia berkata: \u201cJangan berharap kepada manusia, harus ikhlas. Berbuatlah karena Allah, bukan karena manusia,,,,,,. Tetapi dibalik kata-kata itu terkadang diikuti&nbsp; pula dengan cari muka pula. Tausiyah berubah menjadi puja-puji&nbsp; dan legitimasi terhadap kebijakan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-ipama wp-block-embed-ipama\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"1zTgHGpNM8\"><a href=\"https:\/\/ipama.id\/en\/my-time\/\">MY TIME<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cMY TIME\u201d \u2014 IPAMA\" src=\"https:\/\/ipama.id\/my-time\/embed\/#?secret=upttk1AJqF#?secret=1zTgHGpNM8\" data-secret=\"1zTgHGpNM8\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agama mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan pada pakaian, jabatan, atau hartanya, melainkan pada takwa. Tetapi dunia luar mempunyai kurikulum sendiri: Jabatan menentukan jarak berdiri. Kekayaan menentukan volume senyum. Kekuasaan menentukan kehangatan salam dan kamera menentukan posisi duduk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pejabat atau pemerintahpun sering cari muka terhadap rakyatnya. Kelihatannya seperti membantu, padahal ada udang di balik batu, terutama menjelang Pemilu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Modal cari muka memang sangat mudah: wajah, senyum, dan sedikit keberanian untuk berpura-pura tidak sedang mencari apa-apa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang, kita hidup dalam zaman ketika orang bisa sangat dekat secara fotografis, videografis, tetapi sangat jauh secara moral. Foto Bersama, nilai berbeda. Senyum sama, niat berbeda. Tangan berjabat, hati belum tentu bersahabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dibalik urusan pencari mukaan ini,&nbsp; ada hal yang sering luput dari ingatan manusia, yaitu&nbsp; ketika ada titik yang tidak bisa diakali:&nbsp; kamera mati,&nbsp; jabatan selesai, orang penting tidak lagi penting,&nbsp; nama tidak lagi disebut, ketika semua orang sudah pulang, ketika tepuk tangan berhenti dsb.&nbsp; Di dalam keadaan ini,&nbsp; maka tidak ada lagi posisi di tengah, tidak ada angle terbaik, tidak ada lighting, tidak ada caption, tidak ada like.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, janganlah terlalu sibuk mencari muka. Orang yang sepanjang hidupnya mencari muka, seolah-olah sedang mengumumkan: bahwa muka yang sejak lahir menempel di depan kepalanya \u2026\u2026\u2026\u2026\u2026.hilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">240926&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Dipublikasikan Oleh : IPAMA PUSAT) <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ganjar Kurnia Di dalam&nbsp; salah satu bagian pidato syukuran 100 tahun Pondok Pesantren Gontor, KH&nbsp; Hasan Abdullah Sahal mengemukakan : sekarang ini \u2026\u2026.kalau tidak punya ijazah, cari ijazah, kalau tidak punya uang cari uang,&nbsp; kalau tidak punya&nbsp; jabatan cari jabatan, kalau tidak punya muka, cari muka\u2026\u2026\u2026..\u201d. Istilah cari muka ini, menarik untuk didiskusikan.<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":9932,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[9,486],"tags":[447,434,23,206],"class_list":["post-9931","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-opini","category-utama","tag-cari-muka","tag-ganjar-kurnia","tag-ipama","tag-ipama-pusat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9931","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9931"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9931\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10225,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9931\/revisions\/10225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9932"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9931"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9931"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9931"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}