{"id":10326,"date":"2026-10-10T06:17:49","date_gmt":"2026-10-09T23:17:49","guid":{"rendered":"https:\/\/ipama.id\/?p=10326"},"modified":"2026-10-10T06:19:55","modified_gmt":"2026-10-09T23:19:55","slug":"martabat-tukang-martabak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ipama.id\/en\/martabat-tukang-martabak\/","title":{"rendered":"Martabat Tukang Martabak"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh : Ganjar Kurnia<\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-post-featured-image\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1408\" height=\"768\" src=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak.jpg\" class=\"attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image\" alt=\"\" style=\"object-fit:cover;\" srcset=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak.jpg 1408w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-300x164.jpg 300w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-1024x559.jpg 1024w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-768x419.jpg 768w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-18x10.jpg 18w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-150x82.jpg 150w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-450x245.jpg 450w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Martabat-Tukang-Martabak-1200x655.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 1408px) 100vw, 1408px\" \/><\/figure>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada dua kata yang jika diucapkan sambil ngantuk, perbedaannya sangat tipis: martabak dan martabat. Satunya dijual, satunya harus dijaga. Martabak dibungkus kardus, martabat&nbsp; semestinya dibungkus rasa malu. Namun, dalam politik, keduanya kadang tertukar. Martabak dijaga resepnya, tapi martabat justru bisa tercecer dalam kekuasaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Syahdan, ada seorang anak muda yang memulai perjalanan hidup dari berjualan martabak. Tentu saja tidak ada yang salah. Banyak orang besar lahir dari warung kecil. Persoalannya bukan dari mana seseorang berangkat, melainkan jalan mana yang dipakai untuk sampai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika dari gerobak menuju balai kota, orang masih bisa menyebutnya kerja keras. Ketika, dari balai kota&nbsp; menuju kursi nomor dua sebuah negara besar, dengan melewati pintu hukum yang ukurannya mendadak diubah, orang mulai bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIni perjalanan karier atau pesanan keluarga?\u201d<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-ipama wp-block-embed-ipama\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"krkkmRdblD\"><a href=\"https:\/\/ipama.id\/en\/mengundurkan-diri\/\">Mengundurkan Diri<\/a><\/blockquote><iframe class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"\u201cMengundurkan Diri\u201d \u2014 IPAMA\" src=\"https:\/\/ipama.id\/mengundurkan-diri\/embed\/#?secret=hgTBleklWI#?secret=krkkmRdblD\" data-secret=\"krkkmRdblD\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Martabak memang dibuat berdasarkan pesanan. Ada martabak biasa, spesial, istimewa, dan super. Jabatan juga rupanya begitu. Ada jabatan yang diperoleh melalui perjuangan, ada yang diperoleh melalui pemilihan, dan ada jabatan super istimewa\u2014aturannya disesuaikan dengan umur pemesannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau umur belum cukup, jangan khawatir. Dalam politik, yang dipotong bukan martabaknya, melainkan peraturannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di warung martabak, pembeli boleh meminta tambahan telur. Di warung kekuasaan, orang tertentu boleh meminta tambahan tafsir. Telur ditambahkan oleh penjual, sedangkan tafsir ditambahkan oleh kerabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau untuk jualan martabak, orang tidak memerlukan ijazah, tapi untuk mengisi jabatan kenegaraan, wajar-wajar saja kalau ijazah menjadi salah satu syarat. Sebenarnya ijazah hanyalah selembar kertas. Ia tidak otomatis menggambarkan pemiliknya pintar, apalagi bermartabat. Namun, kalau seseorang mengaku memiliki ijazah, masyarakat wajar bertanya: ijazah apa, dari mana, dan bagaimana prosesnya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di gerobak saja, pembeli boleh bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMas, ini martabaknya benar memakai telur bebek?\u201d<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text is-stacked-on-mobile\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img decoding=\"async\" width=\"765\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-765x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-9934 size-full\" srcset=\"https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-765x1024.jpg 765w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-224x300.jpg 224w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-768x1028.jpg 768w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-9x12.jpg 9w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-149x200.jpg 149w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar-449x602.jpg 449w, https:\/\/ipama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/prof-ganjar.jpg 896w\" sizes=\"(max-width: 765px) 100vw, 765px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GANJAR KURNIA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lahir : Bandung, 3 Januari 1956 Dewan Pakar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jawa Barat Akademisi dan Budayawan asal <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bandung\">Bandung<\/a>, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jawa_Barat\">Jawa Barat<\/a>. Rektor <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Universitas_Padjadjaran\">Universitas Padjadjaran<\/a> periode 2007 \u2013 2015. Guru Besar sosiologi pertanian di Unpad<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penjual yang baik tidak akan marah. Ia tinggal memperlihatkan telurnya. Martabak tidak memerlukan putusan apa pun untuk membuktikan bahwa dirinya martabak. Semua bahannya dapat dilihat. Proses memasaknya dilakukan di depan pembeli. Aromanya sudah menjadi bukti. Tidak ada rapat keluarga untuk menentukan apakah adonan yang belum cukup umur boleh masuk ke dalam wajan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aneh juga, ketika mencari pekerjaan biasa, rakyat diminta menyerahkan fotokopi ijazah yang sudah dilegalisasi, bahkan kadang harus membawa dokumen asli. Tetapi ketika hendak menempati jabatan luar biasa, pertanyaan tentang ijazah dianggap mengganggu stabilitas nasional. Mungkin karena semakin tinggi kursi, semakin rendah kewajiban untuk menjelaskannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada pula yang berkata, \u201cYang penting sekarang sedang mengabdi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat itu terdengar sangat mulia, terutama jika diucapkan setelah semua jalan pintas telah berhasil dilalui. Pengabdian memang indah. Namun, pengabdian yang tumbuh dari keistimewaan keluarga sering terasa seperti martabak manis yang ditaburi garam: bisa dimakan, tetapi ada sesuatu yang mengganggu lidah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, kalau malam ini membeli martabak, jangan hanya bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMartabaknya isi apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesekali bertanyalah: apakah yang membuatnya mempunyai martabat di dalam membuat martabak? Kalau rasanya terasa pahit, tentu jangan disalahkan martabaknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kita meragukan isinya, kardusnya tinggal dibuka. Tidak perlu sidang MK, menghadirkan juru bicara, pengacara, buzzer, ahli telematika, profesor, pakar hukum tata negara dan menyebutkan pembeli tidak mempunyai legal standing untuk melihat telurnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu,&nbsp; kalau malam ini membeli martabak, jangan hanya bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMartabaknya isi apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanyakan juga:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cApakah orang yang membuatnya masih mempunyai martabat?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau martabaknya terasa pahit, jangan&nbsp; menyalahkan adonannya. Mungkin ada yang tidak dimasukkan&nbsp; ke dalamnya, yaitu rasa malu.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Martabat, bukan hanya urusan tukang martabak asli, tapi urusan semua manusia yang setiap hari membuat adonan dan membakar kehidupan.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila martabak gosong, penjual biasanya meminta maaf dan membuat martabak baru, tetapi kalau politik gosong, rakyatlah yang diminta belajar menikmati arang. HIDUP MARTABAK!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">081026&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dipublikasi Oleh IPAMA PUSAT<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ganjar Kurnia Ada dua kata yang jika diucapkan sambil ngantuk, perbedaannya sangat tipis: martabak dan martabat. Satunya dijual, satunya harus dijaga. Martabak dibungkus kardus, martabat&nbsp; semestinya dibungkus rasa malu. Namun, dalam politik, keduanya kadang tertukar. Martabak dijaga resepnya, tapi martabat justru bisa tercecer dalam kekuasaan. Syahdan, ada seorang anak muda yang memulai perjalanan<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":10327,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[9,486],"tags":[434,510,511],"class_list":["post-10326","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-opini","category-utama","tag-ganjar-kurnia","tag-martabat","tag-tukang-martabak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10326","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10326"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10326\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10328,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10326\/revisions\/10328"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10327"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipama.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}