Oleh : IPAMA PUSAT

Provinsi Jawa Barat sering kali diidentikkan dengan gemerlap industri metropolitan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun, narasi sukses ini jika dibedah lebih dalam masih menyisakan ketimpangan spasial yang nyata. Koridor Jawa Barat Utara (Jabar Utara) melesat menjadi episentrum manufaktur dan investasi nasional, sedangkan wilayah Jawa Barat Selatan (Jabar Selatan)—yang membentang dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Pangandaran—cenderung bergerak lebih lambat.
Ketertinggalan ini bukanlah cerminan dari minimnya potensi, melainkan akibat dari keterbatasan aksesibilitas. Wilayah Jabar Selatan memiliki kekayaan agraria yang subur, potensi maritim yang melimpah, serta keindahan alam yang eksotis. Untuk mengubah potensi pasif ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi aktif, pemerintah tidak punya pilihan lain selain melakukan akselerasi konektivitas dan infrastruktur secara masif dan berkelanjutan.
1. Urgensi Mengikis Disparitas Utara-Selatan
Secara historis, pertumbuhan ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah selatan Jawa Barat berada di bawah rata-rata provinsi. Karakteristik topografi Jabar Selatan yang berbukit, berlereng curam, dan dilalui jalur patahan aktif sempat menjadi alasan lambatnya penetrasi infrastruktur modern.
Dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat lokal. Petani di pedalaman Garut atau nelayan di pesisir Sukabumi sering kali harus menghadapi kenyataan pahit: komoditas hasil bumi dan tangkapan laut mereka mengalami penurunan kualitas sebelum sampai ke pasar perkotaan akibat waktu tempuh yang lama dan jalan yang rusak. Biaya logistik yang tinggi ini mengikis margin keuntungan produsen lokal dan membuat harga barang pokok di wilayah selatan relatif mahal. Oleh karena itu, pemerataan konektivitas bukan lagi sekadar urusan teknis pembangunan jalan, melainkan pemenuhan keadilan sosial bagi jutaan warga Jabar Selatan.
2. Pilar Strategis Akselerasi Konektivitas Jabar Selatan
Akselerasi konektivitas di kawasan ini membutuhkan pendekatan multi-moda yang terintegrasi. Setidaknya ada tiga pilar utama yang sedang dan harus terus digenjot pembangunannya:
- Peningkatan Jalur Lingkar/Tengah Selatan (JTS dan JLS): Pembangunan jaringan jalan non-tol di sepanjang pesisir pantai selatan berfungsi penting sebagai pemecah arus kepadatan jalur utara-tengah sekaligus membuka akses bagi wilayah-wilayah terisolasi. Peningkatan status dan kualitas jalan arteri primer sangat mendesak agar kendaraan logistik bertonase besar dapat melintas dengan aman.
- Akselerasi Tol Strategis (Bocimi dan Getaci): Kehadiran Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) dan rencana megaproyek Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci) adalah game changer. Jalan tol ini akan memangkas waktu tempuh secara drastis dari pusat-pusat pertumbuhan (seperti Jabodetabek dan Bandung Raya) menuju jantung wilayah selatan. Mobilitas orang dan barang yang semula memakan waktu belasan jam akan tereduksi menjadi hitungan jam saja.
- Pengembangan Simpul Logistik Maritim dan Udara: Konektivitas darat harus didukung oleh optimalisasi infrastruktur pendukung, seperti revitalisasi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan pelabuhan regional agar hasil laut dapat langsung didistribusikan melalui jalur maritim. Di sisi lain, optimalisasi Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya dan Bandara Nusawiru di Pangandaran memegang peran vital dalam menjaring segmen pariwisata premium dan perjalanan bisnis.
| Wilayah Jabar Selatan | Potensi Utama Wilayah | Proyek Infrastruktur Kunci |
|---|---|---|
| Sukabumi & Cianjur | Geopark Ciletuh, Pertanian Hortikultura, Perkebunan | Tol Bocimi, Peningkatan Jalur Tengah Selatan (JTS) |
| Garut & Tasikmalaya | Pariwisata Alam, Industri Kreatif, Perikanan Tangkap | Tol Getaci, Optimalisasi Bandara Wiriadinata |
| Ciamis & Pangandaran | Pariwisata Pantai, Pusat Pengolahan Hasil Laut | Jalur Lintas Selatan (JLS), Bandara Nusawiru |
3. Pembangunan Ramah Bencana dan Berkelanjutan
Mempercepat pembangunan di Jabar Selatan tidak boleh dilakukan secara serampangan. Wilayah ini secara geografis berada di zona ring of fire yang rentan terhadap bencana geologi, mulai dari pergerakan tanah, tanah longsor, hingga potensi gempa bumi dan tsunami di pesisir pantai.
Oleh karena itu, rekayasa sipil dalam proyek infrastruktur Jabar Selatan wajib menerapkan prinsip-prinsip eco-engineering. Pembangunan jalan raya di lereng berbukit harus dilengkapi dengan dinding penahan tanah (retaining wall) yang adaptif, sistem drainase bawah permukaan guna mengontrol tekanan air pori tanah, serta penanaman vegetasi berakar dalam (seperti vetiver) untuk mengikat struktur tanah. Setiap jengkal pembangunan fisik harus tunduk pada daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup agar infrastruktur yang dibangun tidak memicu bencana baru bagi warga sekitar.
4. Sinergi Pendanaan dan Pendekatan Pentahelix
Kebutuhan dana untuk membangun kawasan seluas Jabar Selatan sangatlah besar dan tidak mungkin hanya mengandalkan kantong APBD pemerintah daerah. Dibutuhkan lompatan inovasi tata kelola pembiayaan, salah satunya melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Sektor swasta perlu diberi insentif dan kemudahan regulasi untuk berinvestasi pada proyek infrastruktur komersial, seperti pengelolaan tol, pelabuhan, maupun kawasan otorita wisata.
Selain itu, keberhasilan akselerasi ini bertumpu pada kolaborasi Pentahelix yang mempertemukan peran aktif pemerintah, akademisi (untuk riset teknologi mitigasi), sektor swasta (investor), komunitas masyarakat (sebagai pengawas dan penerima manfaat langsung), serta media massa. Sinergi ini memastikan bahwa pembangunan yang berjalan bersifat inklusif—tidak menyingkirkan masyarakat lokal, melainkan justru melibatkan mereka sebagai aktor utama dalam rantai pasok ekonomi baru.
Kesimpulan
Akselerasi konektivitas dan infrastruktur di Jawa Barat Selatan bukan sekadar proyek fisik masa kini, melainkan investasi strategis jangka panjang demi masa depan Jawa Barat yang lebih adil dan merata. Ketika jalan tol tersambung, jalur pesisir mulus, dan simpul logistik berfungsi optimal, maka dinding pembatas kemiskinan dan isolasi wilayah di Jabar Selatan akan runtuh dengan sendirinya. Jabar Selatan tidak lagi menjadi “halaman belakang” yang terlupakan, melainkan bertransformasi menjadi beranda depan baru yang mandiri, berdaya saing tinggi, dan lestari.
Daftar Pustaka
- Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat. (2024). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2025-2045. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2024). Rencana Strategis Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan Koridor Pulau Jawa. Jakarta: Kementerian PUPR.
- Nugraha, A., & Setiawan, B. (2022). Analisis Ketimpangan Pembangunan Wilayah Utara dan Wilayah Selatan Jawa Barat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 19(2), 145-158.
- Sinaga, T. M. (2019, 21 Oktober). Konektivitas Jabar Selatan Ditingkatkan. Kompas.id. Diakses dari kompas.id
- Suharso, P. (2023). Mitigasi Bencana Berbasis Eco-Engineering pada Infrastruktur Transportasi Daerah Tropis. Jakarta: Pustaka Sains.

1 Komentar
Pingback: Sinergi Pendanaan dan Pendekatan Pentahelix: Kunci Utama Akselerasi Pembangunan Jawa Barat Selatan – IPAMA