Oleh : IPAMA PUSAT

Pariwisata konvensional sering kali terjebak dalam pola pembangunan yang berpusat pada kapital besar, di mana masyarakat lokal hanya menempati posisi sebagai penonton atau pekerja upahan berpenghasilan rendah. Untuk wilayah Jawa Barat bagian selatan yang kaya akan potensi alam dan budaya, pola ini harus diubah. Wilayah pesisir, pegunungan, dan pedesaan di Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran membutuhkan model pembangunan yang inklusif. Di sinilah Community-Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Komunitas hadir sebagai solusi strategis untuk mengikis kesenjangan dan membangun kemandirian ekonomi dari akar rumput.
CBT bukan sekadar konsep bertamasya, melainkan sebuah pendekatan pengelolaan destinasi di mana masyarakat lokal berperan sebagai pemilik, perencana, pengelola, sekaligus penerima manfaat utama. Melalui model ini, pariwisata bertransformasi menjadi alat pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Pilar Utama Penerapan CBT di Jabar Selatan
Untuk mengimplementasikan CBT secara efektif di koridor selatan Jawa Barat, terdapat tiga pilar utama yang harus diperkuat:
- Kepemilikan dan Pengelolaan Lokal (Local Ownership): Akomodasi seperti homestay, pemandu wisata (tour guide), hingga atraksi budaya harus dimiliki dan dikelola langsung oleh warga melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hal ini memastikan bahwa perputaran uang dari wisatawan langsung masuk ke dompet masyarakat setempat, bukan mengalir ke luar daerah.
- Pelestarian Nilai Budaya dan Tradisi: Jabar Selatan memiliki warisan budaya Sunda yang sangat otentik. Melalui CBT, kehidupan sehari-hari masyarakat—seperti proses bertani tradisional, pembuatan kerajinan anyaman, hingga seni pertunjukan lokal—dikemas menjadi atraksi wisata edukatif. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi untuk merasakan pengalaman hidup bersama warga (live-in experience).
- Perlindungan Lingkungan Berbasis Komunitas: Karena masyarakat lokal menggantungkan hidupnya pada kelestarian alam sekitar, mereka memiliki motivasi tertinggi untuk menjaga ekosistem tersebut. Warga bertindak sebagai garda terdepan dalam menjaga kebersihan pantai, kelestarian hutan, dan keasrian kawasan pegunungan dari kerusakan.
Efek Domino Ekonomi Bagi Warga Lokal
Penerapan CBT yang sukses akan menciptakan multiplier effect (efek berganda) yang instan bagi perekonomian lokal. Ketika sebuah desa wisata berbasis komunitas berkembang, berbagai sektor ekonomi kreatif ikut terangkat:
- Sektor Kuliner: Warung-warung lokal dan ibu-ibu rumah tangga dapat memproduksi camilan atau makanan khas daerah untuk konsumsi wisatawan.
- Sektor Akomodasi: Rumah warga yang dialihfungsikan menjadi homestay menghasilkan pendapatan pasif langsung tanpa memerlukan pembangunan hotel berbintang yang merusak lanskap alam.
- Penyerap Tenaga Kerja Muda: Pemuda desa mendapatkan ruang aktualisasi diri sebagai pemandu wisata, pengelola media sosial destinasi, atau penyedia jasa transportasi lokal. Ini menjadi rem alami bagi tingginya laju urbanisasi ke kota-kota industri di Jabar Utara.
Langkah Strategis Menuju Keberhasilan
Agar penerapan CBT di Jabar Selatan tidak sekadar menjadi wacana, pemerintah bersama komunitas pemuda dan akademisi perlu melakukan intervensi nyata. Pelatihan literasi keuangan dan digital harus masif diberikan kepada Pokdarwis agar mereka mampu memasarkan desanya lewat platform global. Selain itu, sinergi kemitraan dengan agen perjalanan dan pembuat kebijakan diperlukan untuk memastikan standarisasi pelayanan tetap terjaga tanpa menghilangkan keaslian (authenticity) desa tersebut.
Kesimpulan
Penerapan Community-Based Tourism adalah kunci untuk membuka gembok potensi ekonomi Jawa Barat bagian selatan secara terhormat. Dengan menempatkan rakyat sebagai aktor utama, pariwisata tidak hanya menghasilkan devisa dan lapangan kerja baru, tetapi juga merawat martabat budaya, menjaga kelestarian alam, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Jawa Barat.
